Home > News

PBNU Desak Zionis Buka Akses Masjid Al Aqsha

Gus Yahya juga meminta aktor global menghentikan kekejaman di Gaza.
Ketum PBNU, Gus Yahya. 
Ketum PBNU, Gus Yahya.

SEKITARKALTIM, REPUBLIKA NETWORK – Menjelang Ramadhan, Juru Bicara Brigade Al Qassam Abu Ubaidah, kembali muncul dalam video resmi Hamas. Ia mengajak warga Palestina agar berduyun-duyun memenuhi masjid Al Aqsha. Terutama saat bulan Ramadhan.

Abu Ubaidah menegaskan, “Kami menyerukan seluruh rakyat kami di Tepi Barat, Al-Quds, dan tanah-tanah yang diduduki pada tahun 1948 untuk memobilisasi dan bergerak menuju Masjid Al-Aqsa, untuk berdiri teguh di dalamnya, dan tidak membiarkan pendudukan memaksakan kenyataan di lapangan.”

Ia melanjutkan, “Al-Aqsa adalah milik kita, bagian akidah kita, dan demi itulah Badai Al-Aqsa dilancarkan. Demi kepentingannya, rakyat kami telah memberi semua yang mereka miliki. Tuhan telah memilih untuk menghormati setiap rumah di Gaza dengan kehormatan besar ini. Jadi tidak ada rumah tanpa ada syahid, terluka, atau tawanan demi Al-Aqsa,” tegas Abu Ubaidah, Jumat (8/3/2024).

Segendang sepenarian. Di Indonesia, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyoroti tragedi kemanusiaan yang kian memburuk di Palestina, khususnya di Gaza dan Tepi Barat.

Menjelang bulan suci Ramadan, Gus Yahya juga mendesak otoritas Zionis Israel membuka akses ke Masjidil Aqsa bagi umat Islam yang ingin beribadah selama bulan ramadan.

Ia menyayangkan penutupan akses ini yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir.

“Kami juga meminta meminta dengan sungguh-sungguh pada penguasa Israel untuk membuka akses Masjid Al-Aqsa untuk beribadah selama Ramadhanini, karena sudah beberapa waktu ini Masjidil Aqsa ditutup aksesnya dari umat Islam yang ingin beribadah ke sana,” kata Gus Yahya dalam keterangan persnya, Sabtu (9/3/2024).

Dalam upaya mencari solusi bagi warga di Palestina, Gus Yahya mengaku telah melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri, termasuk pemerintah Indonesia melalui menteri luar negeri.

Namun, ia menilai, situasi masih sangat sulit, dengan suara masyarakat internasional yang diabaikan oleh pihak yang terlibat.

“Kami khawatir malapetaka yang sedang berlangsung cenderung menjadi status quo, karena semua suara masyarakat internasional sama sekali tidak didengar dan diabaikan oleh mereka yang terlibat di dalam bencana Palestina ini,” paparnya.

Karenanya, Gus Yahya mengimbau komunitas internasional, termasuk pemerintah Indonesia, untuk terus mengambil inisiatif diplomatik internasional dan kebijakan-kebijakan yang tegas untuk membongkar kebekuan bencana yang sedang terjadi.

“Inisiatif berupa manuver-manuver diplomatik internasional, maupun tentu saja juga kebijakan-kebijakan yang decisive yang dilaksanakan secara deliberate secara sungguh-sungguh di lapangan untuk berupaya terus membongkar kebekuan bencana yang sekarang sedang berlangsung,” ujar Gus Yahaya.

Ia juga meminta aktor-aktor global mengingat bahwa membiarkan kebrutalan yang terjadi di Palestina bisa memicu dinamika yang berbahaya bagi stabilitas dan keamanan global.

“Karena segala prinsip-prinsip hukum internasional dilanggar dan dengan ngotot dilindungi, dibiarkan untuk terus berlangsung dan bisa membuat putus asa seluruh masyarakat internasional atas tatanan internasional yang berdasarkan aturan-aturan yang sudah disepakati,” ujar dia.

Karena itu, dia menuntut kepada aktor-aktor global untuk segera menghentikan kekejaman yang terjadi di Gaza dan Palestina serta kembali kepada konsensus internasional yang telah disepakati.

“Kami juga menuntut kepada aktor-aktor global untuk segera menghentikan atrocities (kekejaman), menghentikan malapetaka yang sekarang sedang berlangsung di Gaza dan Palestina dan kembali kepada hukum dan konsensus-konsensus internasional yang sudah ada,” tegasnya.

Republika

× Image