Home > Mancanegara

Pembantaian Baru dalam Genosida Zionis: 104 Warga Gaza Tewas, 200 Terluka

Serangan serupa juga dilaporkan di Khan Younis, Rafah, dan Deir al-Balah.
Seorang bayi tewas dalam pelukan sang ayah. (Days of Palestine)
Seorang bayi tewas dalam pelukan sang ayah. (Days of Palestine)

REPUBLIKA NETWORK, SEKITARKALTIM – Pasukan pendudukan zionis Israel telah melakukan pembantaian baru di Jalur Gaza.

Akibatnya, menewaskan sedikitnya 104 warga sipil Palestina dan melukai lebih dari 200 lainnya sejak fajar hari Sabtu, menurut sumber medis yang dilaporkan Al Jazeera.

Sumber tersebut mengonfirmasi bahwa 78 korban tewas saat menunggu untuk menerima bantuan pangan.

Sebanyak 67 orang tewas dalam serangan brutal terhadap pertemuan warga sipil di barat laut Kota Gaza. Lalu sebanyak 13 lainnya tewas di utara Rafah di Jalur Gaza selatan saat mereka menunggu distribusi bantuan kemanusiaan.

Serangan paling mematikan terjadi di perlintasan Zikim, tempat pasukan Israel menembaki kerumunan warga sipil yang sedang menunggu truk bantuan PBB. Sehingga mengakibatkan pembantaian mengerikan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menegaskan pendudukan zionis Israel sengaja menggunakan kekuatan berlebihan dan mematikan terhadap warga sipil tak bersenjata.

Serangan serupa juga dilaporkan di Khan Younis, Rafah, dan Deir al-Balah, yang akhirnya memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Situasi ini sangat kritis di tengah pengungsian massal yang terus berlanjut dan kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah.

Rumah sakit di seluruh Gaza hampir kolaps total, tak mampu menampung korban yang terus bertambah. Pasien diangkut dalam kondisi sangat sederhana, tanpa listrik dan kekurangan obat penting yang parah.

Pembantaian ini telah memicu gelombang kecaman hak asasi manusia internasional, dengan seruan mendesak untuk penyelidikan independen atas kejahatan perang dan pembentukan koridor kemanusiaan yang aman.

Meski PBB telah berulang kali memperingatkan kelaparan yang mengancam lebih dari separuh penduduk Gaza, pendudukan Israel terus memblokir akses permanen ke perlintasan perbatasan dan membatasi masuknya bantuan secara teratur.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia menyatakan bahwa "kematian akibat kelaparan" telah menjadi salah satu penyebab utama kematian di Gaza, di samping pemboman yang terjadi setiap hari.

Dengan menipisnya persediaan makanan pokok dan harga yang mencapai tingkat yang tak terbayangkan, mendapatkan sepotong roti menjadi hampir mustahil.

PBB: Anak-anak Gaza Kian Terpuruk

Days of Palestine, pada Senin (21/7/2025) melaporkan Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNRWA) mengeluarkan peringatan keras.

UNRWA menyebut Israel sengaja membuat warga sipil di Gaza, termasuk lebih dari satu juta anak-anak, kelaparan. Zionis Isarel telah menghalangi pengiriman penting makanan, susu formula bayi, dan obat-obatan ke wilayah yang terkepung tersebut.

“Orang-orang kelaparan,” kata Wakil Direktur Program Pangan Dunia, Carl Skau, setelah kunjungan baru-baru ini ke Kota Gaza.

"Ini yang terburuk yang pernah saya lihat. Seorang ayah yang saya temui telah kehilangan 25 kg hanya dalam dua bulan. Orang-orang kelaparan, sementara kami punya makanan di seberang perbatasan."

UNRWA mendesak Israel untuk segera mencabut blokade dan mengizinkan akses kemanusiaan tanpa batas. Badan tersebut secara khusus mengecam tindakan tentara Israel yang terus-menerus menargetkan warga sipil di lokasi distribusi makanan yang dimiliterisasi yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Israel dan AS.

Sejak terbentuknya GHF pada akhir Mei, hampir 900 warga Palestina telah terbunuh saat mencoba mengakses makanan, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Di Gaza tengah, juru bicara pertahanan sipil Mahmud Bassal melaporkan peningkatan kematian bayi yang mengkhawatirkan akibat kelaparan.

"Kasus-kasus memilukan ini bukan disebabkan pengeboman langsung, melainkan oleh kelaparan, kurangnya susu formula bayi, dan ketiadaan layanan kesehatan dasar," ujarnya kepada AFP, mengonfirmasi setidaknya tiga kematian serupa dalam seminggu terakhir saja.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menggemakan peringatan ini, menggambarkan tingkat kelaparan di Gaza sebagai “bencana” dan situasinya “tidak dapat diterima.”

Dalam pernyataan yang diunggah di X, badan tersebut mengatakan warga sipil yang mencari makanan ditembaki. Adapun anak-anak “menderita,” dan beberapa meninggal sebelum bantuan dapat menjangkau mereka.

"Kita sedang menuju ke tempat yang tidak diketahui," kata Direktur Bantuan Medis, Dr. Mohammed Abu Afash, di Gaza.

"Malnutrisi pada anak-anak telah mencapai titik tertingginya. Perempuan dan anak-anak terpuruk karena kelaparan. Hari-hari mendatang bisa menjadi bencana jika makanan tidak diizinkan masuk."

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 71 anak telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi sejak perang dimulai, sementara lebih dari 60.000 lainnya kini menderita gejala kelaparan akut.

Pada hari Ahad saja, 18 orang meninggal dunia akibat kelaparan, termasuk seorang penyandang disabilitas yang meninggal dunia akibat kelaparan berkepanjangan dan kurangnya perawatan.

Di sebuah tempat penampungan sementara yang penuh sesak di Gaza tengah, seorang ayah pengungsi, Ziad Musleh, berbagi kepedihannya.

"Kami sekarat, anak-anak kami sekarat, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya," ujarnya kepada AFP. "Anak-anak kami menangis dan menjerit minta makan. Mereka tidur dalam kesakitan, kelaparan, dengan perut kosong. Sama sekali tidak ada makanan."

Dokter Lintas Batas (MSF) melaporkan situasi yang memprihatinkan bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, dengan kelahiran prematur dan malnutrisi parah yang meningkat drastis.

"Banyak bayi lahir prematur akibat malnutrisi yang meluas di kalangan ibu hamil," kata dokter MSF, Joanne Perry.

Luka tidak kunjung sembuh karena kekurangan protein. Infeksi berlangsung jauh lebih lama dari biasanya. Ini benar-benar krisis.

Meski bantuan terbatas yang tiba sejak akhir Mei, persediaan yang dikumpulkan selama gencatan senjata enam minggu awal tahun ini telah habis.

Blokade Israel sebagian besar masih tertutup rapat, memperburuk apa yang kini disebut oleh badan-badan kemanusiaan sebagai salah satu krisis pangan terparah di abad ke-21.

Mila

× Image