Home > News

1.000 Dai Disebar Kemenag ke Wilayah Tertinggal

Menag berpesan agar para dai dan daiyah tidak anti terhadap kritik. Serta tak terbuai pujian.
Pelepasan seribu dai. (Kemenag)
Pelepasan seribu dai. (Kemenag)

REPUBLIKA NETWORK, SEKITARKALTIMDi antara program tarhib Ramadhan 2025 dari Kementerian Agama, Kemenag kembali mengirim 1.000 dai dan daiyah dari pelbagai daerah di Indonesia.

Mereka akan dikirim untuk berdakwah ke wilayah 3T: wilayah terdepan, terluar, tertinggal. Serrta wilayah khusus sampai luar negeri.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengapresiasi para pendakwah yang meneguhkan niat mereka untuk mengabdi selama Ramadhan.

“Sebanyak 1.000 orang yang siap terpisah selama sebulan dengan istri dan suami, ini pengabdian luar biasa. Perjalanan yang penuh tantangan, tapi juga penuh pahala luar biasa,” ujar Abu Rokhmad.

Abu mengingatkan ihwal dokumentasi dan evaluasi dakwah. Setiap dai diminta melaporkan aktivitasnya, mengaktifkan media sosial, membuat laporan berbasis data untuk mengukur perubahan di masyarakat.

Selain itu, ia berharap, para dai dapat memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat dan keluarga yang mereka bina. Abu Rokhmad menyampaikan hal itu, melalui keterangan resminya, dinukil Kamis.

Pelepasan keberangkatan seribu dai, berlangsung Rabu (26/2/2025). Pelepasan itu ditandai penyerahan bendera Merah Putih oleh Abu Rokhmad kepada perwakilan dai.

“Negara membutuhkan tangan-tangan kreatif dan niat baik para dai. Bantu negara ini dengan mengajak masyarakat bekerja keras sesuai bidangnya. Bangun kedekatan emosional,” ujar Abu.

Pengiriman dai ke wilayah 3T rutin dilakukan saban setiap Ramadhan, sejak tahun 2022. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam, memperkuat harmoni masyarakat berbasis nilai agama dan kearifan lokal.

Sekaligus membantu menyelesaikan masalah sosial, dan budaya di wilayah perbatasan. Tahun ini, Kemenag juga memperluas akses layanan keagamaan bagi diaspora Indonesia di luar negeri dengan mengirim lima dai ke Australia, Jerman, dan Selandia Baru.

Para pendakwah yang ditugaskan di luar negeri merupakan peraih juara MTQ di tingkat nasional.

Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi menambahkan, meningkatnya permintaan layanan keagamaan dari diaspora, berpotensi bagi Indonesia menjadi kiblat dalam kajian dan praktik keislaman. Sebagaimana permintaan imam dan khatib dari pelbagai negara, termasuk Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Layanan keagamaan yang diberikan bisa dilihat dari keberadaan Universitas Islam Internasional Indonesia yang dibangun Indonesia.

“Yang memiliki 70 persen mahasiswa asing dan 30 persen mahasiswa lokal,” ujar Zayadi. Ia berharap, para dai yang diutus dapat memahami pentingnya mengenal audiens (mad’u) secara psikologis dan spiritual.

Zayadi mengingatkan, dalam berdakwah perlu memperhitungkan faktor sosial dan budaya masyarakat. Para dai tak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, tapi juga melakukan analisis sosial agar dakwah lebih efektif. Para pendakwah berangkat mulai 27 Februari 2025 dan bertugas hingga akhir Ramadhan.

Pesan Menag: Dai Jangan Anti Kritik

Menteri Agama Nasaruddin umar memberi pesan khusus kepada 1.000 dai dan daiyah. Ia berpesan agar para dai dan daiyah tidak terlena pujian dan jangan anti kritik.

"Orang yang puas dengan pujian sudah selesai, tetapi mereka yang terus dikritik akan berkembang. Orang yang senang menerima kritik dan berterima kasih pada yang mengkritiknya adalah orang besar. Tidurnya nyenyak, makannya enak, tidak ada dendam yang bermalam," ujar Menag.

Ia juga menekankan agar para dai tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan dalam berdakwah.

"Jangan mencari popularitas di tempat tugas," imbuhnya.

Menag memberi tiga pesan lainnya. Yakni, menjaga wudhu, mendoakan orang tua, dan memperbanyak ibadah sunnah. Nasaruddin mengingatkan, setiap tetes air wudhu mengalirkan dosa-dosa masa lampau. "Setiap tetes air wudhu itu, bertengger sejumlah malaikat yang menghapus dosa-dosa," pesannya.

Program pengiriman dai ke wilayah 3T, wilayah khusus, dan luar negeri ini digelar atas kerja sama dengan berbagai pihak.

Yakni, Badan Pengelola Keuangan Haji, BAZNAS RI, Dhompe Dhuafa, Bank Syariah Indonesia, BSI Maslahat, Salam Setara, YBM PLN, LAZ As-Salam fil Alamin, Baitul Mal Wal Muamalat, 10 LAZ Munzalan Indonesia, LAZ Mizan Amanah, Ponpes As’adiyah, Ma’had Aly al Mubarok, dan Ponpes Modern Dzikir Al Fath.

Yan Andri

× Image