Home > News

Penyebab Kenaikan Harga Beras versi Jokowi

Kenaikan diklaim terjadi secara global.
Petani di Jogja membawa hasil panen. 
Petani di Jogja membawa hasil panen.

SEKITARKALTIM, REPUBLIKA NETWORK – Sejak beberapa bulan silam, masyarakat dikeluhkan dnegan naiknya sejumlah bahan pokok, termasuk beras. Harga rata-rata beras di Jakarta bahkan mencapai Rp 16.500 per kg.

Untuk harga tertinggi terjadi di Provinsi Papua Pegunungan yang mencapai Rp 23.800 per kg, sedangkan harga terendah di Aceh sebesar Rp 14.850 per kg.

Apa penyebab tingginya harga beras?

Menurut Jokowi perubahan iklim dan cuaca yang menyebabkan terjadinya gagal panen, sehingga menjadi penyebab harga beras di seluruh dunia, termasuk Indonesia mengalami kenaikan.

Ia bilang harga bberas di seluruh negara, di dunia saat ini naik, tak hanya di Indonesia saja, tapi di semua negara harganya naik.

“Kenapa naik? Karena ada yang namanya perubahan iklim, perubahan cuaca sehingga banyak yang gagal panen," kata Presiden Jokowi saat menyerahkan bantuan beras kepada keluarga penerima manfaat (KPM) di Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/1/2024).

Jokowi menjelaskan konsumsi beras di Indonesia tak mengalami perubahan, namun produksinya berkurang. Sehingga terjadi kekurangan suplai yang berakibat kenaikan harga. Mengacu situs resmi Badan Pangan Nasional yang diakses Senin, harga rata-rata beras premium nasional mencapai Rp 16.100 per kg.

Pemerintah menyalurkan bantuan beras untuk kepada 22 juta KPM, berdasarkan data yang dikelola oleh Kemenko PMK. Bantuan tersebut bertujuan meringankan beban KPM terhadap kenaikan harga beras ini.

"Pemerintah kita membantu bantuan beras ini agar meringankan ibu-ibu semuanya karena tadi harganya naik," ujar Jokowi.

Bantuan Pangan Beras telah terlaksana sejak awal tahun 2023 dalam 2 tahapan dan kemudian dilanjutkan lagi pada tahun 2024. Bantuan pangan beras di 2024 disalurkan mulai Januari sampai Juni.

Ia menekankan bahwa bantuan akan diperpanjang jika APBN masih memungkinkan.

"Jadi ini Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni. Nanti setelah Juni kita liat APBN-nya mencukupi atau tidak. Kalau mencukupi kita lanjutkan," papar Jokowi.

Republika

× Image