CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Ancaman resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance semakin nyata dan berpotensi melemahkan sistem kesehatan nasional, jika tidak diantisipasi secara sistematis.
Menjawab tantangan itu, BRIN melalui Pusat Riset Veteriner, Organisasi Riset Kesehatan, menggelar workshop bertajuk: AMR in Surface Water Using Metagenomic Approach.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis memperkuat sistem peringatan dini berbasis lingkungan, melalui pendekatan Wastewater-Based Epidemiology (WBE) dan analisis metagenomik.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si., menegaskan integrasi WBE dan metagenomik menjadi langkah strategis menjawab tantangan AMR.
Kata Prof Indi, pendekatan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini, seperti masa COVID-19.
“Pemantauan air limbah memungkinkan kita mendeteksi tren resistensi di tingkat populasi sebelum kasus klinis meningkat di rumah sakit,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini selaras konsep One Health karena mencakup keterkaitan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Hal ini sangat penting memetakan penyebaran Antibiotic-Resistant Genes (ARGs). .
Indi juga menyoroti pentingnya transfer teknologi melalui kemitraan internasional, termasuk dengan National Institute of Genetics dan Osaka University Jepang.
Kolaborasi ini memperkuat kapasitas teknis dalam analisis bioinformatika, pengurutan genom, serta isolasi mikroorganisme yang sulit dikultur.
Metagenomik saat ini menjadi alat paling komprehensif untuk mengidentifikasi keseluruhan gen resistensi dalam suatu ekosistem.
“BRIN mendorong peningkatan kapasitas pelajar dan peneliti muda dalam proyek pemantauan AMR di air limbah dan perairan alami,” imbuhnya.
Kepala Pusat Riset Veteriner BRIN, drh. Harimurti Nuradji, Ph.D. menjelaskan, kegiatan ini bagian kolaborasi regional yang melibatkan Indonesia, Jepang, dan Australia dalam kerangka WBE Project E-Asia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengambilan sampel di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Kota Bogor, dilanjutkan preparasi dan pemrosesan sampel di laboratorium, serta seminar dan diskusi ilmiah.
Pelatihan teknis mencakup teknik pengambilan sampel air, isolasi dan identifikasi mikroba resisten, hingga pemrosesan sampel untuk analisis metagenomik.
Menurut Harimurti, penyelarasan metodologi dan peningkatan kapasitas bioinformatika menjadi kunci keberlanjutan riset bersama.
Ia berharap implementasi teknologi berbasis air limbah dapat memperkuat sistem pengawasan lingkungan di Indonesia sekaligus menghasilkan data ilmiah yang relevan bagi perumusan kebijakan pengendalian AMR.
“Kami juga akan melakukan diskusi lanjutan terkait pengembangan kolaborasi dengan pihak Jepang,” ujarnya.
Ia juga berharap penyelarasan metodologi dan peningkatan kapasitas bioinformatika di laboratorium dapat memperkuat sistem pengawasan berbasis air limbah di Indonesia.
Kolaborator Project E-Asia dari Kanazawa University, Prof. Ryo Honda mengatakan, pascapandemi COVID-19, pengawasan air limbah diakui sebagai alat efektif untuk sistem peringatan dini penyakit menular, termasuk AMR.
“Setelah COVID-19, pengawasan air limbah terbukti menjadi alat yang sangat berguna untuk peringatan dini penyakit menular, termasuk AMR,” ujarnya.
Pendekatan WBE memungkinkan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat melalui analisis mikroorganisme yang terdapat di air permukaan dan air limbah.
Lingkungan ini dapat berfungsi sebagai reservoir bakteri resisten antibiotik sekaligus media transfer gen resistensi.
Karena itu, diperlukan pendalaman molekuler melalui pendekatan metagenomik yang mampu mendeteksi gen resistensi antibiotik (Antibiotic-Resistant Genes/ARG) secara komprehensif.
Termasuk dari mikroorganisme yang tidak dapat dikultur. Ia menilai pendekatan ini relevan diterapkan di Indonesia, khususnya di wilayah dengan akses layanan medis terbatas.
“Proyek ini berpotensi menjadikan Indonesia sebagai showcase pengawasan lingkungan terhadap AMR, virus, dan mikobakteri seperti tuberkulosis di kawasan ASEAN.”
Peneliti Pusat Riset Veteriner BRIN Dr. drh. Susan M. Noor, MVSc., memaparkan hasil studi pemantauan di lima sungai utama dan IPAL wilayah Bogor.
Pihaknya mengidentifikasi berbagai gen resistensi kritis seperti CTX-M, SHV, dan TEM pada bakteri Escherichia coli dan Klebsiella sp.
“Temuan ini menunjukkan sistem perairan, terutama di bagian hilir dan outlet limbah domestik, telah menjadi hotspot akumulasi gen resistensi,” ujarnya.
Susan juga mengungkapkan adanya dinamika temporal resistensi.
Pada musim tertentu, prevalensi resistensi terhadap antibiotik golongan karbapenem seperti Meropenem mencapai tingkat yang mengkhawatirkan hingga 100 persen.
Penggunaan teknologi sekuensing Nanopore dalam penelitian ini dinilai mampu menghasilkan data genetik presisi dengan biaya lebih efisien dibanding metode klinis konvensional.
BRIN menegaskan komitmennya membangun sistem pengawasan resistensi antimikroba berbasis sains. Serta kolaborasi internasional untuk melindungi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
BRIN











