CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Industri fashion terus berevolusi setiap tahun, dan tahun 2026 diprediksi tahun penuh eksperimen, ekspresi diri, sekaligus evolusi estetika klasik dan futuristik.
Menurut sejumlah laporan tren global termasuk Pinterest Predicts, Vogue, dan berbagai analisis fashion forecasting terbaru, ada banyak perubahan yang akan membentuk gaya berpakaian tahun depan.
Kembalinya Elemen Renda dan Romantisme
Salah satu prediksi tren yang kuat untuk 2026 adalah dominasi renda (lace) dan tekstur romantis pada pakaian wanita — dari rok maxi lace sampai celana dengan bahan halus.
Di Eropa, permintaan untuk skirt renda diproyeksikan meningkat sekitar +20% di EU dan +13% di AS.
Dominasi renda (lace) dan tekstur romantis menjadi salah satu tren mode yang kuat dan terus berkembang dalam pakaian wanita saat ini hingga tahun 2025 dan tahun depan.
Sejumlah aspek utama dari tren ini, antara lain: Renda akan mengalami kebangkitan mode yang signifikan, tampil lebih serbaguna, elegan, dan jauh dari kesan kuno.
Renda tidak lagi hanya untuk acara formal, tetapi juga terintegrasi dalam gaya kasual sehari-hari.
Selanjutnya gaya romantis dalam fashion menampilkan kesan feminin, manis, dan anggun, dengan dominasi garis desain yang lembut. Ini mencakup berbagai gaya, seperti: Dark Romance atau perpaduan romantis dengan nuansa gelap dan sentuhan modern yang edgy, menarik minat Gen Z.
Ada pula model coquette, sebuah gaya yang sangat feminin, sering kali menampilkan pita, renda, dan elemen manis lainnya. Termasuk ladylike dressing atau tampilan elegan dan modern, yang sering kali memanfaatkan detail seperti renda untuk memberikan kesan anggun.
Warna dan Nuansa Estetika Baru
Warna “Cloud Dancer” — shade off-white lembut dari Pantone Color of the Year 2026 — semakin populer di runway dan tren fashion kasual, memberi nuansa tenang dan fleksibel yang cocok untuk berbagai gaya.
Fashion 2026 juga dipengaruhi oleh estetika nostalgic seperti Dark Academia dan poetcore, menonjolkan tweed, corduroy, layering klasik, serta kalem warna tanah yang memberi kesan intelektual dan timeless. Pencarian internet untuk poetcore naik hingga +175% sepanjang 2025.
Tahun depan juga digadang-gadangkan tren pakaian dengan volume yang lebih dramatis — seperti oversized maxi skirts, balloon silhouettes, dan struktur potongan arsitektural yang menonjolkan bentuk unik tubuh pemakai.
Blazer terus menjadi wardrobe staple di 2026. Versi terbaru termasuk collarless blazer, belted blazer, dan shoulder-pad silhouettes yang mencerminkan keseimbangan antara klasik dan kontemporer.
Pencarian untuk trench coat dress dan funnel neck jacket melonjak signifikan, menunjukkan minat fashionista terhadap outerwear yang versatile dan struktural — dari jaket architectural sampai trench yang bisa jadi statement outfit sendiri.
Sustainable dan Techwear Lifestyle
Kesadaran lingkungan terus memengaruhi fashion 2026: sustainable casual wear dengan bahan ramah lingkungan dan techwear yang praktis diprediksi tetap relevan karena konsumen makin peduli pada fashion yang bertanggung jawab sosial.
Sneaker berbahan patent leather diprediksi jadi salah satu trend besar 2026, semakin populer lewat selebritas dan fashion influencer dunia. Aksesori statement seperti pendant necklaces juga makin diminati, memberikan sentuhan glamor pada outfit sehari-hari.
Motif checked, seperti gingham dan windowpane check, mengalami pertumbuhan pencarian dan diperkirakan akan tampil di berbagai item dari shirt hingga outerwear, terutama di musim semi-panas.
Salah satu pergeseran besar adalah ke arah genderless fashion, di mana batas antara pakaian pria dan wanita semakin kabur, dengan fokus pada desain universal, silhouette fleksibel, dan kenyamanan sehari-hari.
Tren futuristik seperti holografik, opalescent tones, dan material 3D diberi nama estetik seperti “extra celestial” atau “techno-romanticism” yang memadukan teknologi dengan nuansa lembut dan ekspresif.
Di 2026, aksesori berukuran besar—mulai dari anting, cincin, hingga tas bergaya hobo—bertindak sebagai focal point dari seluruh look. Di era ini, aksesori tidak hanya sebagai pelengkap tetapi menjadi statement piece utama.
Formal wear makin lentur: kombinasi relaxed tailoring dengan elemen casual menjadikan outfit profesional lebih nyaman tanpa mengurangi estetika.
Earthy Tones dan Palette Natural
Selain Cloud Dancer, palette earthy seperti khaki dan sage diprediksi kuat di 2026, menunjukkan tren fashion yang lebih organik dan bersahaja.
Tren fashion tahun depan juga merangkul estetika function meets fashion — pakaian praktis dengan fitur fungsional seperti kantong utility, fabric tahan air, dan desain modular.
AI dan Personalisasi Fashion
Teknologi AI akan makin mengubah cara kita berpakaian: dari rekomendasi outfit berbasis data tubuh hingga virtual try-on, sehingga tren bukan hanya diikuti, tapi dipersonalisasi untuk setiap individu.
Tahun 2026 diperkirakan menjadi era “quiet luxury” — fokus pada kualitas, craftsmanship, dan material premium, bukan sekadar logo mencolok di pakaian.
Akhirnya, tren fashion 2026 menunjukkan bahwa pakaian bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara mengekspresikan mood, personal identity, dan gaya hidup — sebuah evolusi dari konsumsi pasif menjadi ekspresi aktif.
Tahun 2026 akan menjadi era fashion yang kaya variasi — dari romantisme lace, neutral palette Pantone, nostalgia klasik, hingga futurisme inovatif. Tren ini tidak hanya melibatkan apa yang kita pakai, tetapi juga bagaimana kita berinteraksi dengan fashion sebagai medium ekspresi diri.

Arah Baru Gaya Global Lebih Personal dan Futuristik
Industri fashion dunia memasuki fase baru menjelang 2026. Tidak lagi sekadar mengikuti musim, tren fashion kini dibentuk perubahan gaya hidup, teknologi digital, kesadaran lingkungan, serta kebutuhan akan ekspresi diri.
Laporan dari McKinsey & Company: The State of Fashion Outlook tahun 2025 dan Pinterest Predicts menunjukkan konsumen global semakin selektif, berorientasi nilai, dan menginginkan fashion yang relevan secara emosional dan fungsional.
Tren romantis tidak lagi identik dengan gaya klasik. Di 2026, renda dan material sheer hadir dengan sentuhan modern—dipadukan dengan blazer struktural, denim, atau boots.
Menurut data Heuritech AI Fashion Forecasting, visual lace skirt dan sheer top meningkat signifikan di media sosial sejak akhir 2024, menandakan pergeseran romantisme ke arah yang lebih edgy dan urban.
Warna 2026 berfokus pada ketenangan visual. Selain Cloud Dancer (off-white lembut), palet warna seperti warm beige, muted sage, clay brown, dan pale grey mendominasi.
Pantone menekankan bahwa warna-warna ini mencerminkan kebutuhan psikologis manusia akan stabilitas di tengah ketidakpastian global—membuat fashion menjadi sarana “emotional comfort”.
Blazer, setelan, dan tailored wear mengalami transformasi besar. Potongan tetap rapi, tetapi lebih longgar, breathable, dan mudah dipadukan dengan pakaian kasual.
Data Vogue Business 2025 mencatat peningkatan minat pada “relaxed tailoring” karena meningkatnya sistem kerja hybrid dan gaya hidup mobile.
Fashion 2026 menekankan bentuk dan volume. Rok balon, jaket arsitektural, dan celana wide-leg bukan sekadar tren, tetapi simbol kebebasan bergerak dan ekspresi diri. Desainer menggunakan pendekatan sculptural untuk menciptakan pakaian yang terlihat artistik namun tetap wearable.
Isu keberlanjutan tidak lagi sekadar jargon. Konsumen menuntut transparansi material, rantai pasok, dan dampak lingkungan.
Laporan McKinsey Sustainability in Fashion 2025 menunjukkan lebih dari 67% konsumen Gen Z bersedia membayar lebih untuk brand yang benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar greenwashing.
Pakaian dengan banyak fungsi—kantong tersembunyi, bahan tahan air, wrinkle-free fabric—akan semakin diminati. Tren ini dipicu oleh gaya hidup aktif, perjalanan singkat (short trips), dan urban mobility. Fashion 2026 menggabungkan estetika dan efisiensi dalam satu desain.
Sneaker tetap populer, namun tampil lebih sleek dengan material premium seperti kulit patent dan recycled leather. Tas berukuran medium dengan desain fungsional menjadi favorit. Aksesori besar tetap ada, tetapi dipilih secara selektif sebagai statement, bukan berlebihan.
AI mengubah cara orang berbelanja dan berpakaian. Mulai dari virtual fitting, rekomendasi warna berdasarkan skin tone, hingga desain berbasis data preferensi pribadi. Menurut Business of Fashion Tech Report 2025, personalisasi berbasis AI menjadi faktor utama loyalitas konsumen di industri fashion.
Batas gender dalam fashion semakin kabur. Potongan universal, warna netral, dan desain adaptif menjadi standar baru.
Brand global mulai mengurangi label “menswear” dan “womenswear”, menggantinya dengan koleksi berbasis fungsi dan gaya.
Alih-alih futuristik ekstrem, tren 2026 mengarah pada futurisme yang hangat—material berkilau halus, efek opalescent, dan tekstur 3D ringan yang tetap nyaman dipakai sehari-hari. Ini mencerminkan hubungan manusia dan teknologi yang semakin harmonis.
Logo besar mulai ditinggalkan. Konsumen lebih menghargai detail jahitan, kualitas bahan, dan keawetan produk. Tren “quiet luxury” menunjukkan pergeseran dari konsumsi impulsif ke investasi jangka panjang dalam fashion.
Fashion 2026 bukan sekadar mengikuti tren, tetapi mewakili identitas, nilai, dan gaya hidup.
Prediksi tren fashion 2026 memperlihatkan satu benang merah: fashion menjadi lebih manusiawi. Lebih personal, lebih sadar lingkungan, lebih fleksibel, dan lebih bermakna.
Bukan tentang apa yang paling viral, tetapi apa yang paling relevan dengan diri sendiri dan dunia sekitar.
Mila, diolah dengan bantuan AI












