CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Satriyo Krido Wahono menyampaikan capaian riset yang dikembangkan para periset di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Umar Anggara Jenie.
Ia menjelaskan, PRTPP fokus riset off-farm dari paska panen sampai keamanan produk pangan. Mulai diversifikasi produk, pangan fungsional hingga teknologi pengawetan dan pengemasan.
“Kami mengembangkan riset dari proses pascapanen hingga menjadi produk, termasuk aspek keamanan pangan dan halal,” jelas Satriyo, di laman resmi BRIN, dinukil Rabu (7/1/2025).
Saat ini, lanjutnya, ada 146 periset aktif yang terbagi dalam 18 kelompok riset.
Satriyo menjelaskan, hanya kurun empat tahun PRTPP telah menghasilkan hampir 1000 publikasi internasional, lebih dari 200 paten.
Selain itu, ada pula sejumlah inovasi yang telah dilisensikan ke industri sebagai bagian dari upaya hilirisasi. Selanjutnya, periset di PRTPP BRIN juga berkontribusi dalam pendampingan BRIN.
Semisal FIAR, PPBR, PUMI dan PKPRIM; khususnya dalam kegiatan PUMI (pendampingan UMKM) dan PKPRIM (bimbingan teknis ke masyarakat) periset PRTPP BRIN berkontribusi dalam lebih dari 50% kegiatannya.
Periset PRTPP, Asep Nurhikmat mengingatkan soal pentingnya dukungan sarana produksi untuk pengembangan pangan siaga dan pangan militer.
“Kami ingin mendorong kembali pengembangan pangan siaga agar BRIN siap merespons kondisi darurat dengan produk yang terjangkau dan siap digunakan,” kata Asep.
Periset PRTPP Ema Damayanti menekankan perlunya penataan infrastruktur laboratorium, khususnya untuk mendukung riset mikrobiologi dan bioteknologi pangan.
Katanya, keterbatasan ruang dan pemisahan alat laboratorium memengaruhi efektivitas riset.
“Kami berharap ada penataan kembali agar riset berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Periset PRTPP lainnya, Nur Alim Bahmid, menilai penguatan fasilitas analisis dan peralatan riset sangat dibutuhkan untuk mempercepat hilirisasi teknologi kemasan dan pangan masa depan.
Ia menilai, beberapa analisis seharusnya bisa dilakukan langsung agar hasil riset lebih cepat diproses dan siap dikomersialisasikan.
“Sehingga fungsi BRIN tidak hanya sebagai penghasil teknologi namun juga sebagai penghubung teknologi dengan mitra industri” katanya.
Selain itu, periset PRTPP Bakti Berlyanto Sedayu menyoroti tingginya kebutuhan industri terhadap teknologi perpanjangan masa simpan pangan.
Menurutnya, sebagian besar permintaan dari industri adalah teknologi untuk memperpanjang umur simpan produk. “Ini peluang besar bagi riset pangan BRIN untuk menghasilkan teknologi siap guna,” ujarnya.
BRIN












