CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Presiden Amerika, Donald Trump, gencar mengemis bantuan negara lain agar mau bersama-sama mengamankan Selat Hormuz.
Sampai kini, jalur penting pasokan minyak dunia itu telah dikuasai sepenuhnya oleh militer Iran. Langkah Iran menguasai Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika dan Zionis Israel.
Trump, melalui Truth Social menerbitkan pernyataan tentang banyak negara mengirimkan kapal perang untuk menjaga Selat Hormuz.
Trump menulis, “Negara-negara di dunia yang menerima Minyak melalui Selat Hormuz harus mengurus jalur tersebut, dan kami akan banyak membantu.”
Trump berpendapat Amerika akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut sehingga semuanya berjalan dengan cepat, lancar, dan baik.
“Hal ini seharusnya selalu menjadi upaya tim. Ini akan menyatukan Dunia menuju Harmoni, Keamanan, dan Perdamaian Abadi,” ujarnya.
Trump juga mengatakan negara-negara yang menerima minyak harus menjaga jalurnya. Ia menyarankan langkah tersebut harus menjadi upaya bersama.
Menanggapi pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengimbau negara-negara tetangga di Teluk dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk mengusir agresor asing.
Ia menegaskan Amerika terbukti tidak bisa memberi perlindungan kepada negara-negara tersebut.
Menurutnya, payung keamanan Amerika yang disebut-sebut terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukannya menghalangi masalah.
Kata Araqchi, “Amerika kini memohon kepada negara lain, bahkan China, untuk membantunya membuat Hormuz aman. Iran menyerukan negara-negara tetangganya untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya kekhawatiran mereka adalah Israel.”
Menteri Luar Negeri Iran juga mengatakan pasukan negaranya akan menanggapi setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Zionis Juga Minta Bantuan
Tak hanya Amerika, Zionis Israel juga mengemis meminta bantuan. Militer Zionis meminta pemerintahan di Ukraina agar memasok teknologi penangkal drone penyerbu Iran.
Menurut laporan media Israel, Ynetnews, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu beberapa hari lalu sempat menyampaikan permohonan itu melalui komunikasinya dengan Duta Besar Ukraina di Israel Yevgen Korniychuk.
Ukrainia disebut memiliki teknologi persenjataan yang mampu menangkal pesawat nirawak Iran yang digunakan Korps Garda Revolusi Islam.
Drone-drone penyerbu Iran itu juga digunakan militer Rusia. Ynetnews melaporkan, Netanyahu meminta agar Dubes Korniychuk menyampaikan permohonan Israel itu ke Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
“Israel meminta keahlian persenjataan Ukraina untuk menangkal drone-drone Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah meminta melakukan panggilan darurat dengan Presiden Zelensky atas kebutuhan Israel yang ingin memperdalam kerja sama militer dalam menangkal drone-drone Iran,” tulis Ynetnews, pada akhir pekan Sabtu (14/3/2026).
Dubes Korniychuk mengamini laporan Ynetnews. Ia mengkonfirmasi Netanyahu memang sudah menyampaikan permohonan itu baru-baru ini. Namun menurut Korniychuk komunikasi langsung antara Netanyahu dengan Zelensky belum dilakukan.
Zionis Bakal Hancur Lebur
Di sisi lain, jurnalis Arab Yahudi, Alon Mizrahi kelahiran Israel mengungkapkan kondisi yang tak biasa terjadi pada kondisi sosial dan pemerintahan rezim Zionis.
Di media sosial X, Alon menyebut, perlawanan balasan Iran atas agresi Israel bersama Amerika telah memunculkan kegawatan yang mengarah kehancuran otoritas dan militer Zionis.
Ia menganalisa, pemerintahan penjajahan Benjamin Netanyahu akan babak belur akibat rudal-rudal dan misil balasan Iran.
“Saya pikir, dengan langkah ini, dalam satu bulan atau lebih, Israel akan mulai hancur, sedikit demi sedikit,” papar Alon.
Ia menilai, pelemahan militer Israel membuat otoritas pemerintahan di Tel Aviv tak mampu mengantisipasi pertahanan yang kian rentan.
“Dugaan saya Iran telah mampu melemahkan angkatan udara Israel secara serius, dan Israel tidak memiliki jawaban,” tulisnya.
Bahkan, Alon mengungkap adanya perubahan psikologis massal warga di Israel selama terjadinya balasan Iran. Perubahan psikologis massal itu, menurut Alon, paling utama terasa di permukaan akibat dari rasa ketakutan warga di Israel.
Bahkan, psikologis warga di Israel mulai kehilangan kepercayaan diri terhadap pemerintahan.
Iran Tangkap Puluhan Mata-mata
AFP melaporkan, Iran menangkap setidaknya 20 orang di wilayah barat laut. Puluhan orang itu ditangkap karena dicurigai bekerja sama dengan Israel lebih dari dua minggu setelah dimulainya perang Timur Tengah.
Menurut laporan AFP, Ahad (15/3/2026), penangkapan itu terjadi selama penggerebekan terhadap jaringan yang terkait dengan Israel di provinsi Azerbaijan Barat.
“Sebanyak 20 orang ditangkap dan ditahan setelah mereka ditemukan mengirimkan detail lokasi militer, penegak hukum, dan keamanan kepada musuh Zionis,” lapor kantor berita Fars mengutip jaksa provinsi Hossein Majidi.
Pihak berwenang Iran telah melakukan penggerebekan besar-besaran di seluruh wilayahnya, dan menangkap ratusan orang dalam beberapa hari terakhir.
Mereka dicurigai bekerja sama dengan Israel dan Amerika Serikat.
Kantor berita resmi IRNA melaporkan penangkapan seseorang yang menurut mereka mengirimkan informasi ke saluran TV Iran International yang berbasis di London.
Laporan itu menyebut orang itu menggunakan terminal Starlink, sebuah teknologi yang dilarang di Iran. Iran telah terisolasi secara digital dari seluruh dunia oleh pemadaman internet total sejak dimulainya perang Timur Tengah.
Untuk mengatasi pembatasan itu, beberapa warga Iran beralih ke terminal Starlink dari perusahaan AS SpaceX, yang terhubung ke internet melalui satelit.
Mila












