CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Konflik kawasan yang kian memanas memasuki situasi yang berat.
Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, menilai perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat sampai kini masih berada dalam fase yang belum menentukan.
Anis menilai, ada tiga skenario besar yang saat ini sedang memanas dan akan menentukan arah geopolitik Timur Tengah.
Hal ini menentukan masa depan gagasan kerja sama pertahanan dunia Islam.
Menurut Anis Matta, melalui wawancara khusus dengan Republika pada Senin (8/6/2026), ia merinci tiga skenario itu yakni perdamaian, eskalasi perang lebih luas, dan kondisi status quo atau no peace, no war.
Ia menilai jika melihat situasi sekarang, ini pertarungan antara skenario damai dan skenario eskalasi.
“Kita belum tahu mana yang akan menang,” ujar Anis, dikutip dari ROL di Balikpapan, Selasa.
Anis mengatakan, jika konflik berakhir melalui jalur damai dalam waktu dekat, posisi Iran relatif lebih diuntungkan.
Sebab, berbagai tujuan awal yang ingin dicapai Israel dan Amerika Serikat gagal terwujud.
Menurutnya kekuasaan Teheran tetap bertahan, tidak terjadi gejolak politik internal yang menjatuhkan pemerintahan, dan kemampuan militer Iran masih bisa mempertahankan diri dari tekanan eksternal.
“Kalau alat ukur kemenangan itu target yang ditentukan di awal, maka target itu tidak tercapai. Karena muncul persepsi bahwa Iran menang dalam ronde pertama,” ujarnya.
Namun Anis mengingatkan perang belum benar-benar usai. Ia melihat adanya upaya-upaya yang berpotensi mengganggu proses menuju perdamaian.
Anis menyoroti serangan yang masih terjadi di Lebanon dan sejumlah wilayah Iran. Ia bilang, serangan itu dapat dibaca sebagai upaya mengganggu peluang kesepakatan damai.
Ia juga menggarisbawahi perkembangan baru dalam posisi diplomatik Iran. Untuk pertama kalinya, kata dia, Teheran memasukkan isu Lebanon sebagai bagian dari agenda perundingan.
Dalam pandangan Iran, serangan terhadap Lebanon kini dipandang memiliki keterkaitan langsung dengan keamanan Iran sendiri.
Artinya, kata Anis, spektrum konflik menjadi lebih luas.
“Iran sekarang mengatakan tidak ada pembicaraan damai kalau Israel masih menyerang Lebanon,” ujar Anis.
Ia berujar, perluasan spektrum konflik seperti itu berpotensi mempersulit proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Meski melihat Iran unggul pada fase awal konflik, Anis menilai skenario yang paling mengkhawatirkan adalah apabila terjadi eskalasi baru.
Ia memperkirakan ronde kedua konflik bisa berlangsung jauh lebih brutal dibandingkan fase pertama perang.
Menurutnya, efektivitas serangan udara memiliki keterbatasan apabila tidak diikuti operasi darat.
Namun pengalaman Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak menunjukkan bahwa invasi darat terhadap negara besar dan relatif solid menyimpan risiko yang sangat tinggi.
“Saya sulit membayangkan Amerika mengambil keputusan invasi darat ke Iran,” katanya.
Karena itu, ia memperkirakan kemungkinan eskalasi akan bergerak ke penggunaan teknologi militer yang lebih canggih dan destruktif.
Dalam konteks itulah, Anis menilai sejumlah pengamat internasional mulai memperingatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Israel yang jauh lebih mematikan apabila konflik memasuki fase baru.
Ia menyebut sejumlah analis geopolitik Barat telah mengangkat kemungkinan tersebut sebagai risiko yang patut diperhatikan.
“Kalau ada eskalasi ronde kedua, maka dia akan jauh lebih brutal daripada yang pertama,” ujarnya.
Selain perdamaian dan eskalasi, Anis melihat kemungkinan ketiga berupa situasi “no peace, no war”. Dalam skenario ini, tidak ada kesepakatan damai formal, tetapi juga tidak terjadi perang besar yang terbuka.
Seluruh pihak, sambungnya, akan menggunakan waktu membangun kembali kapasitas militer, memperkuat posisi strategis.
Sekaligus menguji berbagai peluang diplomatik yang masih tersedia.
“Semua orang saling mengawasi, membangun kekuatannya kembali, dan bersiap untuk sesuatu yang lebih besar sambil menjajaki kemungkinan damai,” kata Anis.
ROL












