CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset pertanian.
Kerja sama ini didukung pemanfaatan fasilitas penelitian Kementan di 38 provinsi.
Kesepakatan itu ditandai lewat penandatanganan kerja sama penelitian pertanian. Kolaborasi diarahkan mempercepat pengembangan inovasi dan hilirisasi hasil riset.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan kerja sama ini momentum penting bagi sektor pertanian. Sinergi kedua lembaga diharapkan memperkuat kontribusi riset terhadap ketahanan pangan.
Ia menilai, pertemuan ini sangat bersejarah bagi pertanian Indonesia.
“Kami bersepakat memperkuat kolaborasi riset,” kata Arif, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya riset BRIN harus menghasilkan produk yang bermanfaat. Hasilnya dapat mendukung pembangunan pertanian nasional.
Arif bilang, BRIN memiliki banyak hasil penelitian yang siap dikembangkan. Inovasi tersebut mencakup varietas tahan perubahan iklim hingga teknologi pertanian modern.
BRIN juga mengembangkan kecerdasan buatan, genomik, dan robotik. Teknologi tersebut dapat mendukung pengembangan pertanian berbasis smart farming.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kerja sama ini sebagai tonggak sejarah. Ia mengatakan, pihaknya menyiapkan fasilitas penelitian untuk mendukung riset BRIN.
“Ini tonggak sejarah. Seluruh laboratorium dan fasilitas Kementerian Pertanian dapat dimanfaatkan peneliti BRIN,” kata Amran.
Ia bilang, untuk fasilitas tersebar di 38 provinsi. Ia memastikan kolaborasi ini bisa memperkuat riset pertanian nasional.
Menurut Amran, hasil penelitian menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian. Inovasi baru dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan sektor pangan.
Pemerintah, lanjut Amran, akan memprioritaskan riset pada sejumlah komoditas strategis. Fokus utama diberikan kepada komoditas dengan permintaan pasar yang tinggi.
“Kedelai, bawang putih, kakao, dan tebu menjadi prioritas. Komoditas tersebut memiliki permintaan yang besar,” katanya.
Pihaknya ingin hasil riset meningkatkan kesejahteraan petani. Produktivitas juga harus meningkat lebih cepat.
Amran berujar, pengembangan komoditas akan dilakukan sesuai keunggulan daerah. Menurutnya, peneliti akan ditempatkan langsung di kawasan pengembangan komoditas.
Kepala BRIN menambahkan produktivitas bawang putih menjadi salah satu target riset. BRIN ingin meningkatkan hasil produksi melalui penguatan penelitian.
Saat ini telah tersedia inovasi yang menghasilkan produktivitas sekitar 4,6 ton per hektare. Ia mengatakan, riset lanjutan akan terus dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi nasional.
Kolaborasi Kementan dan BRIN diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional. Kerja sama tersebut juga mendukung pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan.
Mila












