SEKITARKALTIM.ID – Bak desa mati, ribuan warga Desa Kota Lintang Bawah, Aceh Tamiang memilih meninggalkan rumah dan sisa harta bendanya meski dengan langkah yang berat.
Kehidupan warga desa ini berpindah ke tenda-tenda darurat, sambil bertahan ditengah ketidakpastian di pengungsian menunggu kabar pulang ke rumah agar denyut desa kembali hidup.
Hampir satu bulan, riuh suara warga di permukiman pinggir sungai di Desa Kota Lintang Bawah seketika hilang. Berganti sunyi usai banjir bandang di wilayah tersebut.
Kini, yang tersisa hanya hamparan lumpur dan puing-puing bangunan yang hancur akibat amukan air pada akhir November lalu.
Desa Kota Lintang Bawah menjadi salah satu daerah terparah yang terkena banjir bandang. Hampir 80 persen bangunan rumah hilang terbawa arus saat debit air sungai meluap tak terbendung.
Bangunan yang dulunya tempat paling hangat, rata dengan tanah, menyisakan fondasi, setengah tembok kamar. Kini tersisa material kayu bercampur sampah hingga endapan lumpur yang mulai mengering dan berbau menyengat.
Berdasar data sementara Pemkab Aceh Tamiang, hingga 20 Desember 2025 rumah hunian warga yang mengalami kerusakan akibat bencana alam banjir atau Hidrometeorologi Siklon Tropis berjumlah 21.611.
Dari jumlah itu, rumah yang rusak ringan sebanyak 9.271, rusak sedang sebanyak 5.049 rumah, rusak berat sebanyak 6.311 rumah dan rusak berat atau hanyut mencapai 980 rumah.
Jumlah rumah hunian warga tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah sesuai dengan data lapangan.
Kerusakan rumah hunian terbagi atas 4 kategori yaitu rusak ringan, rusak sedang, rusak berat dan rusak berat hilang.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah akan mengganti rumah warga yang hanyut atau rusak berat akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu.
Republika












