• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Pemberitaan Ramah Anak
  • Penggunaan AI
  • Disclaimer
  • Visitor
  • Kerja Sama
sekitarkaltim.id
Advertisement
  • Beranda
  • News
    • All
    • Business
    • Science
    Regulasi Lengkap WFH untuk Swasta

    Regulasi Lengkap WFH untuk Swasta

    Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri

    Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri

    Krisis Iklim Ancam Stabilitas Ekonomi

    Krisis Iklim Ancam Stabilitas Ekonomi

    Mulai April, Pemerintah Terapkan WFH Tiap Jumat

    Mulai April, Pemerintah Terapkan WFH Tiap Jumat

    BRIN Percepat Revitalisasi Fasilitas Bahan Bakar Nuklir

    BRIN Percepat Revitalisasi Fasilitas Bahan Bakar Nuklir

    Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan BBM Aman

    Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan BBM Aman

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Regional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Serba Serbi
  • Sports
  • Sosok
  • Kolom
  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    Tren Fashion Lebaran 2026: Dominasi Earth Tone, Gaya Minimalis

    Tren Fashion Lebaran 2026: Dominasi Earth Tone, Gaya Minimalis

    Pandangan Psikolog soal Bersahabat dengan Mantan

    Pandangan Psikolog soal Bersahabat dengan Mantan

    Prediksi Tren Fashion 2026: Estetika yang Bakal Dominasi Dunia Mode

    Prediksi Tren Fashion 2026: Estetika yang Bakal Dominasi Dunia Mode

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
    • All
    • Business
    • Science
    Regulasi Lengkap WFH untuk Swasta

    Regulasi Lengkap WFH untuk Swasta

    Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri

    Kemenag Perkuat Literasi Digital Bagi Siswa dan Santri

    Krisis Iklim Ancam Stabilitas Ekonomi

    Krisis Iklim Ancam Stabilitas Ekonomi

    Mulai April, Pemerintah Terapkan WFH Tiap Jumat

    Mulai April, Pemerintah Terapkan WFH Tiap Jumat

    BRIN Percepat Revitalisasi Fasilitas Bahan Bakar Nuklir

    BRIN Percepat Revitalisasi Fasilitas Bahan Bakar Nuklir

    Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan BBM Aman

    Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan BBM Aman

    Trending Tags

    • Trump Inauguration
    • United Stated
    • White House
    • Market Stories
    • Election Results
  • Regional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Serba Serbi
  • Sports
  • Sosok
  • Kolom
  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    Tren Fashion Lebaran 2026: Dominasi Earth Tone, Gaya Minimalis

    Tren Fashion Lebaran 2026: Dominasi Earth Tone, Gaya Minimalis

    Pandangan Psikolog soal Bersahabat dengan Mantan

    Pandangan Psikolog soal Bersahabat dengan Mantan

    Prediksi Tren Fashion 2026: Estetika yang Bakal Dominasi Dunia Mode

    Prediksi Tren Fashion 2026: Estetika yang Bakal Dominasi Dunia Mode

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Game of Thrones
    • MotoGP 2017
    • eSports
    • Fashion Week
No Result
View All Result
sekitarkaltim.id
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Regional
  • Mancanegara
  • Politik
  • Serba Serbi
  • Sports
  • Sosok
  • Kolom
  • Lifestyle
Home HEADLINE

Krisis Energi Hantam Sejumlah Negara

Lonjakan harga minyak dunia menjadi perhatian utama.

Sekitar Kaltim by Sekitar Kaltim
1 April 2026
in HEADLINE
Reading Time: 5 mins read
Krisis Energi Hantam Sejumlah Negara

Penutupan selat Hormuz, mengakibatkan krisis energi global. (Anadolu)

Share on FacebookShare on Twitter

CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID –  Krisis energi saat ini menjadi perhatian utama di berbagai belahan dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya berdampak pada kawasan.

Melainkan juga berpotensi mengguncang ekonomi global melalui tekanan pada pasokan energi dan jalur perdagangan internasional.

Anadolu melaporkan, Dosen Ekonomi Universitas Ilmu Sosial Ankara Doç. Dr. Erhan Akkas dalam analisisnya menyebut langkah Iran ini sebagai intervensi geoekonomi yang dapat mengubah dinamika konflik menjadi tekanan ekonomi berskala global.

Menurut Akkas, penutupan Selat Hormuz tidak hanya mempersempit pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga minyak, tapi juga memicu gangguan rantai pasok internasional yang berdampak pada perdagangan dan produksi dunia.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 25 persen perdagangan minyak laut global melewati jalur tersebut.

Selain itu, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair global dari negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab juga melalui Selat Hormuz, menjadikannya titik krusial dalam sistem energi global.

Akkas menjelaskan bahwa gangguan di jalur ini telah mendorong harga minyak melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel, mendekati level krisis 2008.

Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memicu inflasi global karena meningkatnya biaya transportasi, produksi industri, hingga sektor pangan.

Negara-negara yang bergantung pada impor energi menjadi pihak yang paling terdampak oleh situasi ini.

ArtikelTerkait

Serangan Balasan IRGC Dinilai Sukses

Idul Fitri Ditetapkan 21 Maret 2026

Tanggal Berapa Lebaran 2026?

Krisis energi yang terjadi bukan hanya soal kenaikan harga minyak semata. Dari Eropa hingga Asia, dampak perang Iran, dan lonjakan harga minyak dunia kini menjadi perhatian utama.

Dari kenaikan harga bahan bakar hingga kekurangan pasokan listrik, dampaknya merembet ke hampir setiap sektor. Sejumlah negara mulai merasakan dampaknya, antara lain:

  1. Filipina

Negara ini sangat bergantung pada impor energi. Akibat perang panjang Iran versus Amrika dan Zionis, Filipina menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampak krisis energi.

Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan minyak dari luar negeri membuat posisi Filipina cukup rentan ketika terjadi gangguan pada jalur distribusi global.

Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga energi tidak hanya berdampak di sektor industri, tapi juga terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai biaya transportasi, tarif listrik, sampai harga kebutuhan pokok yang perlahan ikut naik.

ABC News melaporkan, pemerintah Filipina secara resmi mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional sejak 24 Maret 2026.

Kondisi ini merespon ancaman serius pasokan energi domestik.

Presiden Ferdinand Marcos menegaskan negaranya berada dalam posisi sulit, mengingat sebagian besar kebutuhan energinya bergantung pada impor.

Untuk menekan konsumsi, pemerintah mulai menerapkan langkah-langkah penghematan. Mulai pemberlakuan sistem kerja empat hari sepekan bagi sebagian pegawai pemerintah, imbauan kepada masyarakat menjaga penggunaan listrik.

Termasuk membatasi suhu pendingin ruangan tidak lebih rendah dari 24°C.

Sektor transportasi menjadi salah satu yang paling dahsyat terdampak lantaran bergantung pada bahan bakar. Kenaikan harga energi membuat biaya operasional melonjak, yang efek dominonya mendorong kenaikan tarif dan harga barang di tingkat konsumen.

Dalam perkembangan terbaru, pemerintah setempat mulai mempertimbangkan langkah lebih ekstrem, termasuk rencana penghentian sementara sejumlah penerbangan untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Kebijakan ini menunjukkan krisis yang dihadapi bukan lagi sekadar potensi, tetapi sudah masuk ke tahap yang memengaruhi keputusan operasional penting di tingkat nasional.

Selain itu, harga kebutuhan pokok ikut terkerek naik seiring meningkatnya biaya distribusi, sementara pendapatan tidak selalu ikut menyesuaikan.

  1. Vietnam

Selain Filipina, Vietnam ikut merasakan tekanan yang semakin berat saat krisis energi global menghantam. Ketergantungan pada impor, terutama untuk minyak mentah dan bahan bakar, membuat Vietnam berada pada posisi yang sensitif terhadap setiap perubahan di pasar global.

Termasuk gangguan distribusi akibat konflik di Timur Tengah.

Menurut laporan Al Jazeera, pemerintah Vietnam mulai merespons situasi ini dengan sejumlah langkah berikut. Antara lain, bekerja dari rumah dan pembatasan perjalanan.

Kebijakan ini bagian dari upaya menekan konsumsi energi di tengah ketidakpastian pasokan.

Pengurangan mobilitas menjadi salah satu cara paling cepat menahan laju penggunaan bahan bakar, terutama di sektor transportasi yang menyerap konsumsi energi dalam jumlah besar.

Selain itu, pemerintah Vietnm juga mengaktifkan dana stabilisasi harga bahan bakar untuk menjaga agar lonjakan harga tidak langsung diteruskan ke masyarakat dan pelaku usaha.

Kebijakan lainnya, upaya diversifikasi sumber pasokan. Vietnam mulai mencari alternatif di luar kawasan Timur Tengah dengan merencanakan pengadaan jutaan barel minyak mentah dari negara lain.

  1. Bangladesh

Bangladesh termasuk negara dengan tingkat ketergantungan impor energi yang sangat tinggi. Akibat penutupan Selat Hormuz,  Bangladesh berada dalam posisi yang sangat rentan.

Hampir seluruh kebutuhan energi nasional, sekitar 95% dipasok dari luar negeri.

Artinya, ketika harga minyak dunia melonjak dan distribusi terganggu akibat konflik di Timur Tengah, dampaknya langsung terasa tanpa banyak ruang untuk mengantisipasi dari dalam negeri.

Situasi ini membuat Bangladesh tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, melainkan juga tantangan sosial yang cukup serius dalam waktu yang bersamaan.

Dinukil Time, pemerintah Bangladesh merespons kondisi ini dengan langkah-langkah darurat yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Selain pembatasan penggunaan bahan bakar yang mulai diberlakukan secara luas, pemerintah setempat juga memberlakukan penutupan sementara sejumlah institusi pendidikan, termasuk universitas.

Langkah ini untuk menekan konsumsi listrik. Bahkan menjelang perayaan besar seperti Idul Fitri, pemerintah mengambil langkah yang cukup tidak biasa dengan mematikan lampu dekoratif di ruang publik.

Kebijakan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi mencerminkan seberapa serius tekanan yang sedang dihadapi, setiap penggunaan energi kini diperhitungkan dengan lebih ketat.

Selain itu, Pemerintah Bangladesh juga menurunkan aparat untuk mengamankan depot minyak guna mencegah penimbunan dan spekulasi yang bisa memperburuk situasi.

Di waktu bersamaan, Bangladesh berupaya mencari sumber pasokan alternatif dengan menjalin kerja sama impor, terutama untuk bahan bakar seperti solar.

Langkah ini lebih bersifat jangka pendek, sebagai cara untuk menjaga agar roda ekonomi tetap berjalan di tengah tekanan yang terus meningkat.

Dampak krisis ini paling terasa dalam kehidupan masyarakat. Pemadaman listrik mulai terjadi di berbagai wilayah, tidak hanya di daerah terpencil tetapi juga di kawasan perkotaan.

Aktivitas belajar terganggu, banyak pelaku usaha harus menyesuaikan jam operasional, dan industri menghadapi hambatan produksi akibat keterbatasan energi.

  1. Kuba

Kuba termasuk negara yang awal berada dalam tekanan krisis energi, bahkan sebelum konflik di kawasan kian bergejolak. Namun, saat harga minyak dunia melonjak dan distribusi global terganggu, kondisi yang sebelumnya sudah sulit menjadi jauh lebih berat.

Ketergantungan Kuba terhadap impor bahan bakar, terutama dari Venezuela, membuatnya sangat sensitif terhadap perubahan harga dan pasokan.

Bahkan, keterbatasan akses terhadap pasar energi internasional serta kondisi ekonomi domestik membuat pemerintah tidak memiliki banyak ruang untuk meredam dampak yang terjadi.

Menurut laporan Al Jazeera, krisis bahan bakar di Kuba telah masuk ke tahap yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.

Kelangkaan bahan bakar membuat distribusi logistik terganggu, transportasi umum beroperasi terbatas, dan aktivitas ekonomi melambat secara signifikan.

Di sejumlah wilayah, aktivitas harian bahkan harus menyesuaikan dengan ketersediaan energi, bukan lagi berdasarkan kebutuhan.

Kondisi ini memengaruhi pelaku usaha kecil hingga sektor informal yang sangat bergantung pada kelancaran mobilitas dan listrik.

Tekanan paling terasa datang dari sektor kelistrikan. Infrastruktur pembangkit yang sudah lama menghadapi masalah kini semakin terbebani oleh keterbatasan bahan bakar.

Akibatnya, pemadaman listrik massal terjadi lebih sering dan dengan durasi yang lebih panjang. Dalam beberapa kasus, listrik hanya tersedia dalam jam-jam tertentu.

Akibatnya memaksa masyarakat mengatur ulang aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, bekerja, hingga menjalankan usaha.

Situasi ini bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas dan pendapatan masyarakat.

  1. Prancis

Penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran melawan AS-Israel membuat berbagai negara mengalami krisis energi. Negara Perancis juga ikut terdampak.

Untuk mengatasi krisis energi ini, Pemerintah Prancis meluncurkan paket bantuan darurat senilai 70 juta euro (sekitar Rp1,22 triliun) untuk melindungi sektor utama dari “krisis volatilitas harga” akibat perang di Timur Tengah.

Paket itu menyasar sektor transportasi, pertanian, dan perikanan, menurut pernyataan pemerintah, dikutip Anadolu.

Para pejabat menyatakan langkah ini penting menjaga kedaulatan pangan dan memastikan kelancaran ekonomi nasional.

Perusahaan kecil dan menengah di sektor transportasi darat akan menerima bantuan sebesar 50 juta euro dengan skema pembayaran tetap 0,20 euro (sekitar Rp3.490) per liter.

Pajak solar pertanian akan dibebaskan selama satu bulan.

Sektor perikanan mendapat alokasi 5 juta euro untuk menutupi biaya bahan bakar, yang kini mencapai 35 persen dari total operasional.

Pemerintah juga menyediakan “penyangga keuangan,” termasuk penangguhan pembayaran pajak dan jaminan sosial tanpa denda, serta pinjaman “Boost Fuels” hingga 50.000 euro bagi usaha kecil.

Bagaimana dengan Indonesia?

Mulai 1 April, pemerintah memutuskan untuk menerapkan bekerja dari rumah bagi ASN. Kebijakan ini berlaku bagi pegawai di pemerintahan pusat dan daerah, dan diberlakukan setiap hari Jumat.

Pemerintah juga mulai membatasi penjualan harga bahan bakar minyak.

Meski tidak mengalami pemadaman seperti di beberapa negara, namun jauh sebelum perang Amerika-Zionis vs Iran, harga-harga kebutuhan pokok sudah mulai terkerek naik.

Mila, berbagai sumber

Tags: Krisis energiSelat Hormuz
Previous Post

Pemprov Kaltim Susun Arah Pembangunan Daerah

Next Post

Strategi Mengatur Keuangan Paska Lebaran 2026

Sekitar Kaltim

Sekitar Kaltim

Next Post
Strategi Mengatur Keuangan Paska Lebaran 2026

Strategi Mengatur Keuangan Paska Lebaran 2026

Prakiraan Cuaca Balikpapan 2 April: Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Balikpapan 2 April: Hujan Ringan

Uni Eropa Serukan Pembatalan UU Zionis terkait Eksekusi Tahanan

Uni Eropa Serukan Pembatalan UU Zionis terkait Eksekusi Tahanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini

  • Produktif saat Work From Home: Strategi Efektif Kinerja Maksimal
  • Tuntut Keadilan bagi Prajurit TNI yang Gugur, Megawati: Kita Harus Bersatu
  • Seret Penjajah Zionis ke Mahkamah Internasional
sekitarkaltim.id

Media regional yang menyajikan beragam kanal dengan mengangkat pelbagai isu general dan segmented.

Sejak awal mengudara, media siber ini jejaring dari Republika Network. Seiring waktu, tepatnya sejak 25 Desember 2025, Sekitarkaltim.id bermigrasi menjadi bagian dari jaringan Cendana Network.

Kanal

  • Business
  • Fashion
  • HEADLINE
  • Lifestyle
  • Mancanegara
  • News
  • Politik
  • Regional
  • Science
  • Serba Serbi
  • Sosok
  • Sports
  • Tech

Alamat Redaksi

Jalan Adil Makmur No. 10, Baru Ilir, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan.

Kontak Iklan:
CP: +62 822-9986-7079

Email:
iklan@sekitarkaltim.id I redaksi@sekitarkaltim.id

redaksisekitarkaltim@gmail.com

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Pemberitaan Ramah Anak
  • Penggunaan AI
  • Disclaimer
  • Visitor
  • Kerja Sama

© 2022 Sekitarkaltim.id - Cendana Network. All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Regional
  • News
  • Mancanegara
  • Politik
  • Sports
  • Sosok
  • Serba Serbi
  • Kolom
  • Pariwara
    • Pemprov Kaltara
    • Pemprov Kaltim
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Balikpapan
    • Pemkot Balikpapan
    • Pemkab PPU
    • Pemkab Berau

© 2022 Sekitarkaltim.id - Cendana Network. All Right Reserved.