CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Masyarakat Kalimantan Timur, kembali menyoroti penglolaan anggaran Pemprov Kaltim. Kali ini soal angka Rp 450 juta yang digunakan untuk kebutuhan laundry Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.
Selain itu, publik juga menilai agen laundry kecil di pinggir jalan dinilai agak janggal.
“Sekelas gubernur Kaltim kok laundry di tempat kecil,” ujar Hidayat, warga Sepinggan Balikpapan, Senin (11/5/2026). Ia menilai agen laundry tersebut sangat tidak layak untuk mencuci pakaian dan kebutuhan pejabat.
Hidayat menilai pengelolaan anggaran era Gubernur Rudy ugal-ugalan. Mulai mobil dinas Rp 8,5 miliar, renovasi rumah jabatan Rp 25 miliar, honor tim ahli yang juga miliaran. Kini, hanya untuk laundry pun mencapai ratusan juta.
“Semua itu kan uang kami, uang pajak rakyat. Kok seenaknya saja dipakai untuk kebutuhan yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat,” sesalnya.
Segenda sepenarian. Warga Balikpapan Selatan, Yadi, mengutarakan kekecewaan yang sama.
Menurutnya, pengelolaan keuangan daerah harus diutamakan untuk kebutuhan publik. Apalagi, sampai saat ini masih banyak jalan-jalan rusak, jalan berlubang dan minimnya infrastuktur publik lainnya.
“Kalau ditanya perbandingan dengan pemimpin Kaltim sebelumnya, gubernur sekarang jelas banyak blundernya. Sering banget bikin publik kecewa. Apalagi dia kan dinasti,” ujarnya.
Yadi juga merasa heran kenapa aparat penegak hukum tidak segera memeriksa pengelolaan keuangan Pemprov Kaltim.
“Padahal sudah jelas jadi sorotan publik, kok dibiarkan saja,” sesalnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menjadi sorotan publik usai anggaran laundry gubernur yang mencapai Rp450 juta berdar di media sosial. Jumlah ini dianggap terlalu besar jika hanya untuk mencuci pakaian, sehingga memicu perdebatan dan kecurigaan masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Biro Umum Sekretariat Daerah Kaltim, Astri Intan Nirwangi, menjelaskan bahwa anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pakaian.
“Yang dibaca orang kan cuma laundry pakaian kepala daerah Rp450 juta. Padahal kalau dibuka rinciannya, itu bukan hanya pakaian,” ujar Astri saat konferensi pers di kantor Diskominfo Kaltim, beberapa waktu lalu.
Ia merinci anggaran laundry juga mencakup karpet, gorden, sprei, bed cover, cover meja jamuan, cover kursi jamuan, hingga perlengkapan operasional lainnya.
Rincian itu tertuang dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP). Polemik muncul karena masyarakat hanya membaca judul item pengadaan.
Astri bilang, anggaran laundry menunjang operasional enam gedung besar, rumah jabatan gubernur, guest house VIP, hingga sejumlah fasilitas umum yang dikelola Biro Umum Pemprov Kaltim.
Sejak efisiensi anggaran diterapkan, banyak agenda pemerintah berpindah dari hotel ke rumah jabatan gubernur, sehingga penggunaan fasilitas meningkat.
Ia menjelaskan, saat ini kegiatan OPD, kegiatan keagamaan, organisasi masyarakat, hampir semua banyak dilaksanakan di rumah jabatan dan gedung-gedung yang dikelola.
“Jadi otomatis operasionalnya juga meningkat,” katanya.
Rumah jabatan gubernur tidak hanya terdiri dari rumah dinas utama, tetapi juga pendopo, ruang VIP, guest house, hingga musala yang rutin dipakai masyarakat dan ASN.
Aktivitas paling padat terjadi di musala dan guest house. “Di musala itu setiap hari ada pengajian, majelis taklim, dipakai salat juga sama masyarakat dan ASN. Di situ ada mukena, sajadah, karpet yang rutin harus dicuci,” imbuhnya.
“Guest house itu ada 10 kamar dan hampir tiap hari dipakai tamu. Menteri, gubernur, tamu pemerintah provinsi banyak yang transit atau menginap di sana,” katanya.
Pewarta: Yan Andri












