CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Langkah mengejutkan diambil Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Di tengah kecamuk perang melawan Israel dan Amerika Serikat, Pezeshkian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Permohonan maaf itu ditujukan kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang terkena dampak langsung dari operasi militer Teheran.
Dalam pidato yang disiarkan langsung melalui televisi pemerintah, Sabtu (7/6/2026), Pezeshkian secara tegas menyatakan penyesalannya atas kerusakan yang ditimbulkan serangan-serangan Iran selama satu pekan terakhir.
“Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang Iran,” ujar Pezeshkian, dinukil dari AFP.
Pezeshkian, yang kini memimpin Iran sebagai bagian dari dewan kepemimpinan sementara, menegaskan perubahan sikap ini keputusan kolektif.
Ia berujar dewan kepemimpinan telah menyepakati penghentian agresi terhadap negara-negara tetangga.
“Tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal jelas Teheran berupaya menekan eskalasi di front lain agar bisa lebih fokus menghadapi konflik utama dengan Israel dan AS.
Permintaan maaf ini bukan tanpa alasan.
Sebab, sejak konflik meletus 28 Februari, kawasan Teluk menjadi medan pertempuran yang tidak diinginkan. Dari data yang dihimpun, setidaknya 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone telah menyasar lima negara Teluk Arab.
Akibatnya, 13 warga sipil dinyatakan tewas.
Bukan hanya menyasar aset militer, dampak serangan Iran juga merenggut nyawa enam tentara Amerika Serikat di Kuwait ketika pusat operasi di pelabuhan sipil dihantam drone.
Selain itu. kerusakan pada kedutaan besar AS di Arab Saudi akibat serangan udara pekan ini.
Bagi negara-negara Teluk, wilayah mereka yang kaya fasilitas energi dan pusat bisnis strategis kini menjadi kawasan paling rentan di dunia.
Mila









