
REPUBLIKA NETWORK, SEKITARKALTIM – Founder Bobibos atau Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, M Iklas Thamrin menegaskan keyakinannya produk bahan bakar hasil inovasinya akan digunakan secara luas di Indonesia.
Ia menyebut, Bobibos lahir dari proses biokimia melalui lima tahap ekstraksi tanaman yang dirancang dengan mesin sendiri, sehingga menghasilkan bahan bakar nabati berkinerja tinggi.
Iklas mengungkapkan pihaknya menargetkan pembangunan jaringan SPBU Bobibos dan BosMini, pom bensin mini yang dirancang untuk menjangkau wilayah pelosok Indonesia.
Menurutnya, langkah ini bagian dari visi besar Bobibos untuk menghadirkan energi rakyat dengan harga terjangkau, kualitas baik, dan emisi rendah di seluruh Nusantara.
Iklas menjelaskan, konsep tersebut lahir dari tekad menghadirkan bahan bakar alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mudah diakses masyarakat.
Ia menilai pemerataan infrastruktur energi hijau harus dilakukan melalui jaringan distribusi yang merata.
Menurutnya masyarakat di daerah terpencil perlu memenikmati bahan bakar dengan mutu setara wilayah perkotaan. “Bobibos ingin menjadi energi rakyat yang hadir di seluruh pelosok negeri. Dengan SPBU dan BosMini, kami ingin satu harga dari Sabang sampai Merauke,” ujar Iklas, dilansir Republikai, Ahad.
Bobibos dikembangkan melalui proses biokimia yang memanfaatkan lima tahap ekstraksi tanaman pilihan menggunakan mesin rancangan sendiri.
Hasilnya, tercipta bahan bakar nabati beroktan tinggi yang mampu bersaing dengan BBM fosil dari sisi performa, namun menghasilkan emisi lebih rendah.
Menurut Iklas, riset pengembangan Bobibos berlangsung bertahun-tahun dan mencakup tiga tahapan utama riset teknologi, riset komersialisasi, dan riset keterterimaan politik.
Ketiganya dirancang agar produk memenuhi empat aspek kunci, yaitu kualitas tinggi, emisi rendah, keamanan bagi mesin, dan efisiensi harga pokok produksi.
Dalam tahap komersialisasi, Bobibos memprioritaskan harga yang ekonomis agar dapat diterima pasar. Strategi ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan transisi energi di sektor transportasi, di mana masyarakat membutuhkan bahan bakar ramah lingkungan tanpa beban biaya tinggi.
Butuh Kemudahan Perizinan dan Dukungan Regulasi
Perusahaan juga terus menjalin komunikasi dengan pemerintah untuk memperoleh arahan dan dukungan regulasi. Menurut Iklas, percepatan perizinan menjadi kunci agar Bobibos segera legal beredar sebagai bahan bakar alternatif nasional.
“Kami berharap Bapak Presiden Prabowo memberikan jalan tol bagi Bobibos agar bisa menjadi solusi energi merah putih yang ekonomis dan berkualitas,” tuturnya.
Dalam skema bisnisnya, Bobibos menargetkan pembangunan pabrik percontohan dengan kapasitas produksi awal 1,5 juta liter per bulan di wilayah Jawa. Produksi ini diharapkan meluas ke seluruh provinsi agar harga jual bisa satu harga dari Sabang sampai Merauke.
Iklas menyebut pihaknya juga tengah menyiapkan konsep distribusi melalui SPBU dan BosMini, yakni pom bensin ukuran mini yang dapat menjangkau pelosok daerah.
Ia menjelaskan, bahan bakar nabati ini telah melalui berbagai pengujian teknis di lapangan.
Uji coba dilakukan pada berbagai tipe kendaraan, termasuk di jalan datar, menanjak, dan dalam kondisi ekstrem bersama lembaga uji seperti Lemigas.
Dari seluruh hasil pengujian, BOBIBOS dinyatakan aman untuk kendaraan baru maupun lama.
Bobibos, menurut Iklas, didesain untuk menjadi “energi rakyat” dengan harga terjangkau, emisi rendah, serta kualitas yang setara dengan bahan bakar fosil.
Ketua Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (PUSKEP UI) Ali Ahmudi menyoroti klaim Bobibos yang memiliki kadar RON 98.
Menurut Ali, klaim tersebut harus dibuktikan secara nyata dengan hasil uji yang dilakukan pemerintah.
Ali mengaku cukup terkejut dengan klaim bombastis tersebut. Pasalnya, lanjut Ali, kilang crude oil yang langsung diproduksi dari perut bumi hanya mampu menghasilkan mayoritas kadar RON 92.
"Dari kilang itu RON-nya 92, 95, 98. Itu sudah melalui proses yang begitu panjang, melalui banyak zat aditif yang ditambahkan. Kalau mau ditingkatkan, makanya ditambah, salah satunya ditambah etanol kan untuk tingkatkan RON," ucap Ali.
Ali mengatakan BBM dengan pemanfaatan bahan bakar nonfosil memang sangat dimungkinkan dan memiliki dampak positif bagi ketahanan energi nasional.
Ali mencontohkan langkah negara-negara lain yang telah menuju penggunaan E-100 tanpa adanya bahan bakar dari fosil seperti Brasil.
"Dari RON yang dihasilkan Bobibos itu jangan dirahasiakan oleh yang bikin. Itu ditambahkan apa? Dugaan saya, ditambahkan hidrogen karena tidak terbuka, harusnya terbuka," papar Ali.
Republika








