CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan pada Senin, jumlah korban tewas akibat agresi penjajah Zionis Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah meningkat menjadi 886 orang.
Para korban itu termasuk anak-anak dan perempuan, dengan ribuan lainnya terluka.
Laporan harian kementerian menyatakan sebanyak 67 wanita dan 111 anak-anak telah tewas, dan kini ada 2.141 orang yang terluka.
Korban jiwa di kalangan petugas kesehatan juga meningkat, dengan total 38 orang tewas dan 69 orang terluka sejak eskalasi dimulai.
Serangan udara Israel yang dilakukan pada Senin menewaskan 36 orang dan melukai 36 lainnya di berbagai wilayah negara itu.
Sehari sebelumnya, kementerian melaporkan 850 kematian, termasuk 107 anak-anak dan 66 perempuan.
Israel mengumumkan peluncuran operasi darat baru di Lebanon selatan, dengan pasukannya dilaporkan maju tujuh hingga sembilan kilometer ke wilayah Lebanon.
Tentara Israel mengkonfirmasi pada Selasa pagi bahwa mereka telah memperluas operasi daratnya di Lebanon selatan.
Operasi dilakukan Divisi ke-36 bergabung dengan Divisi ke-91 dalam apa yang mereka sebut sebagai kampanye militer melawan Hizbullah.
Dilaporkan pula di pinggiran kota Beirut menghadapi serangkaian serangan udara hebat pada Selasa dini hari.
Kantor Berita setempat melaporkan pesawat tempur Israel menargetkan lingkungan Kafaat dan Haret Hreik. Selain itu, sebuah rudal menghantam sebuah apartemen hunian di lantai atas sebuah gedung di Doha Aramoun.
Penembakan artileri juga menghantam kota-kota perbatasan selatan pada dini hari, mengakibatkan seorang wanita Ethiopia terluka.
Kota-kota di selatan juga dihujani tembakan artileri pada dini pagi hari. Kementerian melaporkan bahwa seorang wanita berkebangsaan Ethiopia terluka dalam serangan tersebut.
Pesawat tempur Israel terus menargetkan berbagai wilayah di Lebanon, khususnya Lebanon selatan, wilayah timur, dan pinggiran selatan Beirut. Tentara Israel telah mengeluarkan perintah untuk maju lebih jauh ke Lebanon selatan untuk memperluas kendali perbatasannya.
Israel Perketat Pengepungan Gaza
Sebuah pernyataan baru dari Euro-Med Human Rights Monitor mengatakan Israel terus menggunakan kelaparan sebagai senjata terhadap warga sipil di Jalur Gaza.
Mereka memperingatkan kebijakan saat ini memperdalam krisis kemanusiaan dan meningkatkan risiko terjadinya kembali kelaparan yang meluas.
Organisasi tersebut menyatakan Israel mempertahankan kendali ketat atas jumlah dan jenis makanan serta barang yang diizinkan masuk ke Gaza, membatasi pasokan kemanusiaan dan komersial.
Pendekatan ini, menurut organisasi tersebut, berkontribusi pada menipisnya sarana penting untuk bertahan hidup dan mendorong pengungsian paksa di antara penduduk.
Menurut Euro-Med Monitor, Israel telah mengintensifkan langkah-langkah ini sementara perhatian internasional fokus konflik Israel dan Amerika Serikat serta perangnya dengan Iran.
Pada awal konflik tersebut, semua penyeberangan ke Gaza ditutup sepenuhnya.
Hanya satu penyeberangan yang kemudian dibuka kembali, dengan jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk dikurangi.
Pada tanggal 28 Februari, otoritas Israel kembali menutup semua perbatasan, menangguhkan masuknya bantuan, bahan bakar, dan barang.
Koordinasi misi kemanusiaan di daerah dekat penempatan militer Israel dihentikan, bersamaan dengan evakuasi medis, pemulangan penduduk dari luar negeri, dan pergerakan personel kemanusiaan.
Akses sebagian kembali dibuka pada 3 Maret melalui Penyeberangan Kerem Shalom, memungkinkan pengiriman bahan bakar dan bantuan dalam jumlah terbatas yang tiba melalui Mesir dan Israel.
Transfer dari Tepi Barat dan Yordania tetap ditangguhkan hingga 5 Maret.
Beberapa impor komersial diizinkan untuk dilanjutkan, meskipun pada tingkat di bawah yang tercatat sebelum eskalasi, yang sebelumnya hanya sekitar 40 persen dari volume yang disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Sejak dibukanya kembali Kerem Shalom, hanya beberapa lusin truk yang diizinkan masuk ke Gaza hingga akhir pekan lalu, jauh di bawah rata-rata harian sebelumnya sekitar 30 truk.
Euro-Med Monitor juga menyatakan Zionis Israel terus melanggar kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata, yang menetapkan masuknya sekitar 600 truk per hari, termasuk 50 truk bahan bakar.
Angka yang terverifikasi menunjukkan bahwa jumlah truk yang masuk sebenarnya tidak melebihi 41 persen dari total tersebut.
Akibatnya kelangkaan bahan bakar sangat parah.
Organisasi tersebut melaporkan bahwa hanya 14,8 persen dari jumlah bahan bakar yang disepakati yang diizinkan masuk, menyebabkan gangguan besar di berbagai sektor penting, termasuk rumah sakit, sistem air dan sanitasi, operasi bantuan, dan transportasi.
Data yang dikumpulkan kelompok tersebut menunjukkan bahwa 37.369 truk telah memasuki Gaza sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2025.
Dari jumlah tersebut, 56 persen membawa bantuan kemanusiaan, 41 persen merupakan pengiriman komersial, dan hanya 3 persen truk pengangkut bahan bakar, angka-angka yang menurut Euro-Med Monitor mencerminkan kekurangan yang signifikan dalam memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Organisasi tersebut juga menyebut Zionis Israel menyajikan data yang menyesatkan mengenai aliran bantuan dan menolak pemantauan internasional independen terhadap prosedur masuk.
Situasi ini menurut mereka merusak akuntabilitas dan mempertahankan kendali ketat atas pasokan yang masuk ke wilayah tersebut.
Pembatasan tak hanya barang, tapi juga pergerakan orang. Penutupan berkelanjutan Penyeberangan Rafah untuk perjalanan telah sangat membatasi pergerakan.
Hanya 1.934 pelancong yang dapat menyeberang selama periode pembukaan sebelumnya, dari perkiraan 6.600, yang mencerminkan tingkat kepatuhan hanya 29,3 persen.
Euro-Med Monitor memperingatkan tindakan-tindakan ini dapat merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk penggunaan kelaparan terhadap warga sipil.
Mereka berpendapat bahwa, jika digabungkan, kebijakan-kebijakan tersebut dapat dianggap sebagai tindakan genosida.
Penjajah Zionis Israel menerapkan kondisi hidup yang disengaja yang mengancam kelangsungan hidup fisik penduduk dan menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis yang parah.
Dampak tersebut diperparah kerusakan luas pada sistem produksi dan pasokan pangan lokal Gaza, yang membuat penduduk hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal.
Pembatasan bantuan tersebut, kata kelompok itu, membuat warga sipil menghadapi kekurangan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya yang parah.
Euro-Med Monitor menyimpulkan dengan menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil tindakan mendesak.
Mereka mendesak pemberlakuan sanksi, pencabutan blokade, dan masuknya bantuan kemanusiaan, bahan bakar, dan barang dagangan secara langsung dan tanpa batasan.
Organisasi tersebut juga menyerukan pemantauan independen terhadap distribusi bantuan, pembukaan kembali semua perbatasan untuk orang dan barang.
Dukungan untuk operasi kemanusiaan, dan peningkatan tekanan untuk memastikan kepatuhan terhadap hukum internasional dan mekanisme akuntabilitas.
Mila












