CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Aparat penegak hukum di Korea Selatan baru-baru ini menangkap 10 mantan pegawai Samsung Electronics.
Mereka ditangkap atas dugaan membocorkan rahasia teknologi inti semikonduktor kepada perusahaan chip asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT).
Insiden ini menjadi salah satu kasus kebocoran teknologi paling serius dalam sejarah industri chip Korea Selatan dan diperkirakan berdampak besar pada perekonomian global.
Menurut laporan Korea Joongang Daily, Jaksa penuntut Korea Selatan resmi menahan lima tersangka termasuk seorang mantan eksekutif Samsung.
Pengadilan setempat mengeluarkan dakwaan terhadap lima lainnya tanpa penahanan terkait dugaan pembocoran teknologi DRAM kelas 10 nanometer (nm).
Proses hukum ini dilakukan berdasarkan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Teknologi Industri dan Undang-Undang Pencegahan Persaingan Tidak Sehat.
Kelompok ini diduga melakukan kebocoran secara sistematis sejak 2016, yaitu sejak awal berdirinya CXMT, sebuah perusahaan semikonduktor yang berbasis di China.
South China Morning Post melaporkan kebocoran teknologi ini memberikan CXMT kemampuan cepat untuk mengejar ketinggalan terhadap raksasa semikonduktor global.
Berkat teknologi DRAM 10 nm yang dibocorkan, CXMT menjadi perusahaan pertama di China yang berhasil memproduksi DRAM 10 nm pada 2023.
Kemudian memproduksi memori bandwidth tinggi (HBM2) secara massal pada 2024 — sebuah langkah signifikan menuju teknologi yang digunakan di pusat data dan AI.
CXMT diperkirakan dapat mencapai pangsa pasar DRAM global hingga 15% pada akhir 2025, menambah tekanan kompetitif terhadap pemain besar seperti Samsung dan SK Hynix.
Rahasia Inti Samsung
Teknologi DRAM atau Dynamic Random Access Memory adalah memori utama yang berfungsi menyimpan data sementara saat perangkat seperti komputer, ponsel, atau server menjalankan aplikasi.
Semakin kecil angka proses (dalam nanometer), semakin tinggi efisiensi dan kepadatan chip tersebut. Samsung sebelumnya menjadi perusahaan pertama di dunia yang berhasil memproduksi DRAM 10 nm secara massal.
Kesuksesan itu setelah lima tahun pengembangan dan investasi sekitar 1,6 triliun won Korea Selatan atau lebih dari USD 1 miliar.
Menurut jaksa, salah satu mantan peneliti Samsung yang keluar dari perusahaan menyalin ratusan langkah proses manufaktur DRAM secara manual ke dalam kertas sehingga menghindari jejak digital, lalu dibawa ke CXMT.
Teknis manual ini dilakukan untuk menyulitkan penyelidikan dan deteksi.
Menurut laporan Korea Joongang Daily, kelompok ini juga disebut menggunakan perusahaan cangkang (shell companies), berpindah kantor secara berkala.
Mereka memakai komunikasi terenkripsi untuk menghindari pengawasan aparat keamanan dalam waktu bertahun-tahun.
Akibat kebocoran ini, Samsung Electronics dilaporkan mengalami penurunan penjualan sekitar 5 triliun won atau sekitar USD 3,8 miliar dalam satu tahun terakhir, menurut otoritas penyelidik.
Dampak ini diperkirakan akan terus berlanjut dan mengancam hilangnya puluhan triliun won dalam jangka panjang, bukan hanya bagi Samsung.
Melainkan juga perekonomian Korea Selatan yang sangat bergantung pada industri semikonduktor.
Persaingan Global Memori
Kasus ini terjadi di tengah dinamika pasar DRAM global yang semakin kompetitif. Menurut data riset industri, SK Hynix telah melampaui Samsung sebagai pemimpin pangsa pasar DRAM pada Q1 2025.
Rinciannya, sekitar 36% dibandingkan 34% Samsung — terutama didorong oleh dominasi SK Hynix di segmen High Bandwidth Memory (HBM) yang kini sangat penting untuk aplikasi AI.
Adapun CXMT terus memperluas kapasitas produksi dan berfokus pada DRAM generasi baru seperti DDR5, yang juga diharapkan tumbuh pesat karena permintaan AI dan pusat data meningkat.
Sebelumnya, terdapat kasus serupa seorang mantan eksekutif Samsung divonis 7 tahun penjara dan denda KRW 200 juta atas pelanggaran serupa untuk bocoran teknologi DRAM 18 nm ke CXMT.
Kasus tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana hukum Korea Selatan memperlakukan pelanggaran perlindungan teknologi nasional secara serius.
South China Morning Post, juga melaporkan kasus ini memperkuat urgensi kebijakan nasional terkait perlindungan teknologi inti.
Korea Selatan sebagai salah satu negara eksportir semikonduktor terbesar dunia, kini harus menghadapi risiko keamanan teknologi. Serta asal usul intelektual dalam era persaingan dengan China yang semakin ketat.
Perketat Proteksi Sistem Data
Hal ini juga mendorong perusahaan semikonduktor global untuk memperkuat sistem proteksi data dan aturan internal guna mencegah kebocoran strategis.
Kasus penangkapan 10 mantan pegawai Samsung ini menjadi contoh paling nyata bagaimana kebocoran teknologi inti semikonduktor bisa berdampak besar pada skor bisnis.
Termasuk berimbas pula pada keamanan nasional, dan lanskap industri global.
Kejadian ini tak hanya menunjukkan peningkatan agresivitas perusahaan semikonduktor China tetapi juga menggarisbawahi pentingnya pengamanan hak kekayaan intelektual di era revolusi teknologi global.
Menurut laporan outlet berita The Chosun Daily dari Korea, tersangka terdiri dari satu mantan eksekutif Samsung, sejumlah peneliti inti, serta kepala bagian yang sebelumnya terlibat langsung dalam pengembangan teknologi DRAM.
DRAM atau Dynamic Random Access Memory adalah memori utama yang bekerja di balik layar saat komputer, laptop, atau ponsel menjalankan aplikasi.
Ketika pengguna membuka browser, mengedit dokumen, atau bermain game, data sementara akan disimpan di DRAM agar bisa diakses cepat oleh prosesor. Inilah memori yang umum dikenal masyarakat sebagai RAM, misalnya RAM 8 GB atau 16 GB.
Yan Andri











