CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Pada Rabu (18/3/2026) Iran mengonfirmasi kepala keamanan, Ali Larijani tewas terbunuh penjajah Zionis Israel.
Sebelum kematiannya, pada Senin (16/3/2026), Ali Larijani sempat menggunggah pesan lewat akun resminya di X.
Dalam unggahannya itu, ia mengutip pesan dari Imam Hussein. “Aku melihat kematian sebagai kebahagiaan semata, dan hidup bersama penindas tak ada artinya kecuali penderitaan”.
Ali Larijani dikonfirmasi gugur oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia syahid bersama putranya dalam serangan Zionis Israel.
Israel Defense Forces mengklaim operasi intelijen dan serangan udara jarak jauh mengakhiri hidup Larijani usai dua pekan berpindah lokasi rahasia di Iran.
Kematian Larijani, yang disebut “pemimpin de facto” paska Ali Khamenei, bakal menjadi trigger semakin kerasnya balasan serangan Iran terhadap Israel.
Siapa Ali Larijani?
Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958, Najaf, Irak, dan gugur pada 17 Maret 2026, di Teheran, Iran. Ia dikenal sebagai pejabat senior di Iran selama beberapa dekade dan pemimpin de facto negara tersebut sejak kematian pemimpin tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.
Keduanya syahid akibat serangan AS-Israel selama Perang Iran 2026.
Melansir laman Britannica, Larijani disebut berada dalam posisi unik di pemerintahan Iran, yang tengah bergejolak karena hubungan dekat keluarganya dengan kalangan ulama dan hubungan pribadinya yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan elit politik.
Karena Larijani bukan seorang ulama, ia tidak memenuhi syarat menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.
Iran akhirnya memilih Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya secara formal sementara Larijani mengelola urusan negara di belakang layar.
Larijani juga berperan penting dalam kebijakan nuklir Iran, setelah menjabat sebagai kepala negosiator pertama mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad dengan Barat (2005–07).
Ia juga pernah memandu dukungan parlemen untuk Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) sebagai ketua Majlis (parlemen; 2008–20).
Peran resminya sampai kematiannya sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Latar Belakang
Meski Larijani bukan ulama, ia lahir dalam keluarga ulama terkemuka. Ayahnya, Hashem Amoli, seorang imam besar, seperti halnya kakek dari pihak ibunya, Mohsen Ashrafi.
Sadeq Larijani, salah satu saudara laki-lakinya, mencapai pangkat ayatollah dan telah bertugas di badan-badan musyawarah pemerintah yang diperuntukkan bagi ulama berpangkat tinggi, termasuk Dewan Penjaga dan Majelis Pakar.
Tahun 1930-an, ayah Larijani meninggalkan Iran di tengah ketegangan antara kelas ulama dan dinasti Pahlavi yang berkuasa (1925–79) dan menetap di Najaf, Irak, pusat utama bagi ilmu pengetahuan dan spiritualitas Syiah di luar Iran.
Keluarga tersebut kembali ke Iran pada tahun 1960-an.
Larijani pertama kali memasuki kehidupan publik sebagai anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang selama Perang Iran-Irak berkembang menjadi salah satu lembaga paling berpengaruh di Republik Islam Iran.
Ia naik pangkat ke posisi senior di IRGC, termasuk sebagai penghubung antara IRGC dan Majlis.
Larijani menjabat di kabinet Presiden Hashemi Rafsanjani (1989–97) sebagai menteri kebudayaan dan bimbingan Islam.
Kemudian ia menjadi direktur jenderal Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB), sebuah bagian dari Kantor Pemimpin Tertinggi (Bayt-e Rahbārī) yang melapor langsung kepada rahbar.
Pada akhir abad ke-20, Larijani telah membina hubungan di berbagai kalangan atas lembaga-lembaga Republik Islam: kelas ulama, IRGC, politisi terpilih, dan rahbar .
Peran dalam Negosiasi Nuklir
Di tahun-tahun awal krisis nuklir Iran, Larijani menggantikan Hassan Rouhani yang berhaluan tengah sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional (SNSC) dan sebagai kepala negosiator nuklir Iran.
tahun 2007, Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2005–13) menggantikannya dengan Saeed Jalili, seorang akademisi garis keras dalam kebijakan luar negeri.
Larijani mencalonkan diri untuk kursi di Majlis pada tahun 2008 dan menjadi ketua parlemen, posisi yang dipegangnya hingga tahun 2020.
Dalam peran itu, ia menjadi pendukung upaya Rouhani sebagai presiden untuk menjalin kesepakatan dengan Amerika Serikat dan kekuatan asing lainnya.
Larijani, sebagai mantan negosiator konservatif yang tetap mendukung kesepakatan Rouhani, dianggap berperan penting dalam meloloskan JCPOA .
Tokoh Masyhur di Iran
Larijani dua kali mencoba mencalonkan diri sebagai presiden, pertama pada tahun 2021 dan kemudian pada tahun 2024. Namun, ia didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga Konstitusi.
Hal ini konon karena putrinya tinggal di Amerika Serikat dan memiliki kewarganegaraan Inggris, tetapi diyakini bahwa, selain itu, Khamenei tidak ingin tokoh-tokoh dari masa kepresidenan Rouhani ikut serta dalam pemilihan tersebut.
Sekilas Larijani
Nama Lengkap: Ali Ardashir Larijani
Nama Persia: Ali Ardeshir Larijani
Lahir: 3 Juni 1958, Najaf , Irak
Wafat: 17 Maret 2026, Teheran, Iran (usia 67 tahun)
Ketika Perang Israel-Hamas berdampak regional, terutama memengaruhi Iran dan sekutunya Hizbullah di Lebanon, Khamenei menunjuk Larijani sebagai utusan berpengalaman untuk membantu mengatasi krisis tersebut.
Di tahun 2025, setelah perang 12 hari Israel dengan Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk Larijani sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional (SNSC).
Dalam peran tersebut, Larijani memainkan peran kunci dalam penindasan brutal terhadap protes Iran pada Januari 2026.
Saat Amerika Serikat menggunakan protes tersebut untuk meningkatkan tekanan pada Iran, Larijani menjadi tokoh sentral dalam kebijakan luar negeri Iran, baik sebagai kepala keamanan maupun veteran negosiasi nuklir.
Pada bulan Februari, Khamenei menunjuk Larijani sebagai otoritas pengambilan keputusan utama di Iran jika Khamenei meninggal dunia.
Lantas, ketika Khamenei terbunuh pada 28 Februari saat pecahnya Perang Iran 2026, Larijani tampaknya mengambil alih kendali.
Kemudian Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi beberapa hari kemudian, tapi Larijani diyakini akan terus memimpin negara hingga kematiannya akibat serangan udara Israel pada 17 Maret.
Pesan Sebelum Syahid
Sebelum kesyahidannya, Ali Larijani sempat mengeluarkan enam poin seruan di tengah masih berkecamuknya perang antara Iran dengan AS-Israel.
Larijani mengingatkan agar negara-negara Muslim untuk bersatu melawan AS dan Zionis. Berikut poin-poin penting seruan Ali Larijani yang diunggah di akun X-nya:
- Iran dikonfrontasi penjajah Amerika-Zionis saat proses negosiasi berjalan, yang tujuannya adalah untuk memecah belah Iran. Mereka memartirkan pemimpin tertinggi dari Revolusi Islam, sejumlah warga biasa, dan komandan militer. Sebagai hasilnya, mereka berhadapan dengan pejuang nasional dan Islam dari rakyat Iran.
- Anda tahu bahwa, kecuali di kasus tertentu – dan bahkan kemudian hanya di level politik – tidak satu pun pemerintahan Islam datang membantu bangsa Iran. Namun, rakyat Iran, dengan determinasi kuat, ditekan oleh musuh yang jahat, hingga pada titik pada hari ini musuh tidak tahu bagaimana keluar dari kebuntuan strategi.
- Iran akan terus melanjutkan jalan perjuangan melawan Setan besar dan kecil (Amerika dan Israel), tapi adalah perilaku pemerintahan negara-negara Islam tidak berkontradiksi dengan kata-kata Rasul (SAW), yang mengatakan, “Jika kamu tidak merespons tangis seorang Muslim, maka kamu bukanlah seorang Muslim” Islam macam apa Ini?
- Beberapa negara bahkan bertindak lebih jauh dengan mengatakan bahwa karena Iran menargetkan pangkalan Amerika dan warga Amerika dan kepentingan Israel di negara-negara itu, Iran dengan begitu adalah musuh kami!. Apakah Iran hanya diam saja sementara diserang dari pangkalan Amerika di negara anda?! Mereka membuat alasan-alasan. Di satu sisi dari peperangan hari ini adalah Amerika dan Israel, dan di sisi lain adalah Muslim Iran dan pasukan pejuang. Di sisi mana anda berada?
- Pikiran tentang masa depan dunia Islam. Anda tahu Amerika tidak akan pernah setia kepadamu, dan Israel adalah musuhmu. Ambil waktu sebentar untuk berpikir tentang diri anda dan masa depan kawasan. Iran berharap anda akan baik-baik saja dan tidak mencari dominasi terhadap anda.
- Persatuan dari umat Muslim, dengan segala kekuatannya, bisa menyediakan dan menjamin keamanan, kemajuan, dan kemerdekaan bagi semua negara.
Mila












