CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Momentum mudik Lebaran 2026 diprediksi menjadi penggerak ekonomi musiman yang signifikan di Kaltim. Terutama di tengah tekanan inflasi yang semakin berat.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Kaltim, Putri Amanda Nurrahmadani mengatakan arus pemudik cenderung mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dalam waktu singkat.
Sehingga mempercepat perputaran uang di masyarakat.
“Arus pemudik membawa peningkatan konsumsi yang langsung terasa di sektor perdagangan, kuliner, transportasi lokal, hingga jasa,” jelasnya, Senin.
Ia bilang, dibanding stimulus fiskal yang memerlukan proses panjang, dampak ekonomi Lebaran lebih cepat dirasakan dan menyebar luas
Terutama bagi pelaku UMKM.
Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia Kaltim, Reza Fadillah, mengamini prediksi ini.
Ia menyampaikan Lebaran menjadi stimulus ekonomi rakyat yang paling konkret karena langsung memicu aktivitas konsumsi.
Menurutnya ada empat sektor yang paling cepat merespons momentum Lebaran.
Yaitu perdagangan ritel dan pasar tradisional, UMKM kuliner, transportasi dan logistik, serta akomodasi dan pariwisata lokal.
Terkhusus Kaltim, dinilai memiliki karakteristik mobilitas ekonomi dua arah.
Selain menjadi tujuan mudik, daerah ini juga menjadi sumber tenaga kerja sektor strategis seperti tambang dan konstruksi yang bekerja dari berbagai provinsi.
“Saat pemudik datang ke Kaltim terjadi lonjakan konsumsi, tapi saat pekerja Kaltim mudik ke luar daerah konsumsi internal juga berkurang. Jadi ada efek plus dan minusnya,” ujarnya.
Inflasi Terkendali
Sebelumnya, inflasi Provinsi Kalimantan Timur pada periode Februari tahun 2026 tetap terjaga di tengah peningkatan permintaan masyarakat selama Ramadhan menjelang Lebaran 2026.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kaltim pada Februari 2026 mencatat inflasi sebesar 0,60% (mtm), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 0,04% (mtm).
Sedangkan inflasi tahunan berada pada level 4,64% (yoy) serta0,64% (ytd).
Secara tahunan, inflasi Kaltim lebih rendah dibanding nasional yang sebesar 4,76% (yoy). Inflasi tahunan Kaltim dipengaruhi low base effect, sehubungan dengan implementasi kebijakan diskon tarif listrik pada Januari–Februari 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan inflasi Kaltim pada Februari 2026 utamanya disumbang kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Hal ini seiring meningkatnya permintaan komoditas pangan strategis selama Ramadhan dan Imlek 2026. Kelompok ini mencatat inflasi 0,97% (mtm) dengan andil 0,29% (mtm).
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberikan andil besar, didorong tren kenaikan emas perhiasan yang masih berlanjut.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 2,66% (mtm) dengan andil 0,20% (mtm). “Ini didorong kenaikan rata-rata harga emas menjadisekitar Rp3.085.000 per gram pada Februari 2026,” ujar Jajang dalam keterangan resminya, pada Rabu, (4/3/2026).
Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan penurunan harga kelompok transportasi, seiring penurunan harga BBM non-subsidi pada awal Februari 2026 sekitar 3–4%.
Sehingga membantu menjaga stabilitas harga di tengah peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kaltim dengan implementasi strategi Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
Pada aspek Keterjangkauan harga, periode Januari hingga Februari 2026, TPID melaksanakan kurang lebih 75 kegiatan gerakan pangan murah, operasi pasar, dan kegiatan serupa lainnya di beberapa kabupaten/kota.
Yan Andri












