CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM.ID – Nicolas Maduro terpilih menjadi Presiden Venezuela setelah menang tipis atas pesaingnya Henrique Capriles, pada 15 April 2013.
Nicolas Maduro terpilih menjadi Presiden Venezuela setelah menang tipis atas pesaingnya Henrique Capriles.
Badan Pemilihan Nasional menyatakan Maduro meraih 50,66 persen suara, adapun Capriles mendapat 49,07 persen. Keduanya hanya terpaut 300.000 suara
“Kemenangan ini merupakan penghargaan lain untuk pemimpin kita Hugo Chavez,” kata Maduro di istana kepresidenan Miraflores, menurut laporan AFP, 15 April 2013 silam.
“Hari ini kita dapat mengatakan bahwa kita memiliki kemenangan pemilu yang adil,” imbuhnya.
Maduro telah bersumpah untuk melanjutkan kebijakan yang didanai minyak untuk mengurangi kemiskinan melalui peningkatan kesehatan, program pendidikan dan makanan.
Para pendukung Maduro merayakan di depan istana presiden, meluncurkan kembang api, menari dan memegang gambar Maduro dan Chavez.
Bagaimana Sepak Terjangnya?
Nicolás Maduro, lahir pada 23 November 1962, Caracas , Venezuela. Ia seorang pemimpin Venezuela yang memenangkan pemilihan khusus yang diadakan pada April 2013 untuk memilih pengganti sisa masa jabatan Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang meninggal bulan Maret.
Setelah menjabat sebagai wakil presiden (Oktober 2012–Maret 2013), Maduro, mantan pemimpin buruh, menjadi presiden sementara setelah kematian Chavez.
Maduro dikenal sebagai kerabat dan pendukung setia di bawah rezim Chavismo atau sistem politik dan ideologi yang didirikan.
Maduro juga kandidat yang berhasil dari Partai Sosialis Bersatu Venezuela (Partido Socialista Unido de Venezuela; PSUV) dalam pemilihan khusus untuk menggantikan Chávez, dan ia terpilih kembali tahun 2018.
Pada 3 Januari 2026, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan Amerika Serikat. Maduro menghadapi tuduhan terorisme narkoba, perdagangan kokain , dan kepemilikan senjata mesin dan alat peledak terhadap AS.
Dalam mengumumkan penangkapan Maduro, Trump mengatakan Amerika akan menjalankan Venezuela sampai transisi kepemimpinan baru yang “aman, bijaksana, dan tepat” dapat terjadi.
Kehidupan Awal Maduro
Menurut catatan Britannica, Maduro dibesarkan dalam keluarga dengan kondisi ekonomi menengah di Caracas, tempat ayahnya terlibat dalam politik sayap kiri dan gerakan buruh.
Ketertarikannya yang mendalam pada politik sayap kiri sejak usia dini mendorong Maduro mengikuti pelatihan sebagai organisator di Kuba daripada pendidikan universitas.
Saat bekerja sebagai sopir bus di Caracas, ia menjadi perwakilan di serikat pekerja transportasi dan naik pangkat.
Ketika Hugo Chavez, yang saat itu perwira militer, dipenjara tahun 1992 setelah memimpin upaya kudeta yang gagal, Maduro dan calon istrinya Cilia Flores, yang saat itu pengacara muda, berkampanye untuk pembebasan Chavez, yang akhirnya terjadi tahun 1994.
Pada tahun 1999, Maduro tercatat sebagai anggota Majelis Konstituen Nasional yang menulis ulang konstitusi yang merupakan bagian dari naiknya Chávez ke kursi kepresidenan.
Tahun itu, Maduro juga bertugas di Dewan Perwakilan Rakyat, yang dihapuskan ketika legislatif menjadi Majelis Nasional unikameral. Kala itu Maduro mulai bertugas tahun 2000.
Ia terpilih kembali pada tahun 2005 dan menjabat sebagai presiden badan tersebut hingga tahun 2006, ketika ia menjadi menteri luar negeri.
Dalam kapasitas tersebut, ia bekerja untuk memajukan tujuan-tujuan [negara-negara] yang telah mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita (ALBA), yang berupaya meningkatkan integrasi sosial, politik, dan ekonomi di Amerika Latin dan untuk mengurangi pengaruh AS di kawasan tersebut.
Ia juga membantu membina hubungan persahabatan Venezuela dengan para pemimpin dunia, seperti Muammar al-Qaddafi dari Libya, Robert Mugabe dari Zimbabwe, dan Mahmoud Ahmadinejad dari Iran.
Nama Maduro dalam pemerintahan mulai melesat, terutama ketika kesehatan Chavez mulai memburuk, dimulai pengumuman awal Chavez tahun 2011 bahwa ia mengidap kanker.
Pada Oktober 2012, setelah kemenangan Chavez dalam pemilihan presiden atas Henrique Capriles Radonski , Maduro menjadi wakil presiden.
Saat yang sama, istri Maduro (yang juga mantan presiden Majelis Nasional) menjabat sebagai jaksa agung Venezuela, keduanya menjadi pasangan politik paling berpengaruh di negara itu.
Sebelum berangkat menjalani operasi di Kuba pada Desember 2012, Chavez menyebut Maduro sebagai pengganti pilihannya jika ia tidak selamat.
Memang, sementara sebagian besar dunia tidak mengetahui status Chavez selama pemulihan paska operasi di Kuba. Yang memaksa penundaan pelantikannya pada Januari 2013.
Kala itu, Maduro, yang selalu setia kepada Chavez, bertindak sebagai pemimpin de facto negara itu. Saingan utamanya dalam perebutan kekuasaan dalam gerakan Chavismo adalah presiden Majelis Nasional saat itu, Diosdado Cabello.
Cabello secara luas dianggap sebagai favorit militer, sedangkan Maduro dipandang memiliki dukungan dari sekutu utama Chavez, yaitu rezim Castro di Kuba.
Pengganti Chavez
Ketika Chavez meninggal pada 5 Maret, Maduro yang bertubuh tegap dan berkumis itulah yang mengumumkan kabar tersebut kepada negara.
Ia meyakini musuh-musuh “imperialis” Venezuela telah meracuni Chavez. Saat menjabat sebagai presiden sementara, Maduro mencalonkan diri melawan Capriles dalam pemilihan khusus pada 14 April untuk memilih presiden yang akan menjabat sisa masa jabatan Chávez.
Maduro memenangkan kontes yang sangat ketat, meraih hampir 51 persen suara dibandingkan dengan sedikit lebih dari 49 persen untuk Capriles, yang mengajukan tuduhan penyimpangan pemilu dan menuntut penghitungan ulang penuh.
Sebaliknya, Dewan Pemilihan Nasional memilih melakukan audit surat suara di 46 persen tempat pemungutan suara yang belum diaudit otomatis berdasarkan hukum pemilihan Venezuela.
Meskipun Capriles menolak untuk berpartisipasi dalam audit dan mengumumkan bahwa ia akan mengajukan gugatan hukum terhadap hasil pemilihan.
Meskipun demikian, Maduro dilantik sebagai presiden pada 19 April.
Seiring kepemimpinannya, sampai awal Januari 2026, Nicolas Maduro ditangkap pasukan Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump mengakui Amerika Serikat telah melakukan “serangan besar-besaran” terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1/2026).
Trump juga mengatakan pasukan AS telah menangkap Nicolas Maduro.
Kata Trump dalam sebuah postingan di Truth Social, Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya, ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.
“Operasi ini dilakukan bersama dengan Penegak Hukum AS,” tulis Trump. Penangkapan terhadap Maduro dan istrinya dilakukan komando elite AS, Delta Force.
Di bawah kepemimpinan Maduro, ia selalu konsisten mendukung Palestina. Di akhir 2024 misalnya, Maduro, menyatakan dukungan penuh untuk Palestina dalam pertemuan puncak ke-24 Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika-Pakta Perdagangan Rakyat yang digelar di Venezuela, pada Ahad (15/12/2024).
“Yerusalem akan kembali menjadi kota suci. Semua kelompok etnis hidup bersama dalam damai. Kota itu tidak akan terus menjadi kota kekuatan Zionis, imperialis, dan penggila perang,” tegas Maduro.
Ia juga menyampaikan pesan kepada Paus Fransiskus (saat itu), meminta agar Sri Paus dapat lebih lantang menyuarakan dukungan untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.
Maduro juga mengecam perampasan wilayah Palestina di bawah pendudukan. Ia juga menyatakan masyarakat internasional tetap bungkam terhadap kondisi genosida yang terjadi.
Dukungan Maduro diikuti para pembantunya. Pada akhir Mei 2024 lalu misalnya, Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil mengecam keras tindakan Israel di Palestina dan menggambarkannya sebagai genosida.
Hadapi Ancaman Empat Hukuman
Usai ditangkap Amerika, Nicolas Maduro terancam hukuman empat kali penjara seumur hidup dalam dakwaan pidana yang diajukan di Amerika Serikat, menurut dokumen pengadilan.
Pada Maret 2020, Maduro dan sejumlah pihak yang diduga bersekongkol dengannya didakwa dalam empat perkara.
Dakwaan itu meliputi konspirasi terkait narkoterorisme, penyelundupan kokain ke Amerika Serikat, penggunaan dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak dalam kegiatan narkoterorisme.
Selain itu, Maduro juga didakwa bersekongkol memiliki dan menggunakan senjata serta alat peledak tersebut. Masing-masing dakwaan itu memiliki hukuman maksimal penjara seumur hidup.
Sebelumnya pada hari sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan skala besar ke Venezuela.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengatakan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, akan segera menjalani persidangan di Pengadilan Distrik Selatan New York.
“Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah didakwa di Distrik Selatan New York. Nicolás Maduro didakwa atas konspirasi narco-terorism,” tulis Bondi dalam pernyataannya di platform media sosial X pada Sabtu.
Reaksi Pemimpin Dunia
Penangkapan Maduro memantik beragam reaksi dari sejumlah negara di dunia. Kementerian Luar Negeri Malaysia, misalnya, menggunakan bahasa lebih tegas dalam tanggapannya.
Mereka menyatakan, mereka “menolak segala bentuk campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negara lain, serta ancaman atau penggunaan kekuatan”.
Adapun Kementerian Luar Negeri Jepang menanggapi serangan dan campur tangan AS dengan mengulang posisi mereka sebagai negara G7, dan menawarkan dukungan ” pemulihan demokrasi dan stabilisasi situasi di Venezuela”.
Sedangkan Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak Amerika “untuk mempertimbangkan kembali posisinya dan membebaskan presiden yang terpilih secara sah dari negara berdaulat beserta istrinya”, serta menyatakan perlunya “dialog” antara Venezuela dan Amerika Serikat.
Respon lain datang dari Kementerian Luar Negeri China yang menyatakan “sangat terkejut dan dengan tegas mengecam penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh Amerika Serikat” dan mendesak Amerika Serikat “mematuhi hukum internasional”
Begitupun respon dari PBB, Sekretaris Jenderal António Guterres menyatakan ia “sangat prihatin” dan memperingatkan “preseden berbahaya”, seraya mendesak penghormatan terhadap hukum internasional
Sedangkan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan pemerintahannya “tidak akan menyesali” berakhirnya rezim Maduro. Tetapi menolak terlibat pembahasan apakah tindakan militer tersebut mungkin melanggar hukum internasional.
Sekutu Venezuela, Presiden Brasil Lula mengatakan tindakan AS “melampaui batas yang tidak dapat diterima” dan merupakan “serangan serius terhadap kedaulatan Venezuela”.
Ia mendesak komunitas internasional untuk “menanggapi dengan tegas”.
Sedangkan Argentina sebagai sekutu dari Trump, Presiden Javier Milei, mengatakan “kita merayakan jatuhnya diktator narkoba-teroris Maduro”.
Ia menawarkan bantuan Argentina dalam transisi negara ke pemerintahan baru, ia mengatakan “tidak ada setengah-setengah atau nuansa abu-abu di sini.”
Mila












