CENDANA NETWORK, SEKITARKALTIM – Komika Pandji Pragiwaksono mendatangi Kantor Majelis Ulama Indonesia Pusat. Tujuannya, melakukan tabayun atau klarifikasi soal materi pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea, yang sempat memicu polemik di ruang publik.
Ia mengaku datang untuk menjelaskan konteks materi yang dibawakan, sekaligus mengakui ada bagian-bagian yang memerlukan elaborasi agar tak menimbulkan kesalahpahaman di mata publik.
Pandji menegaskan langkah ini diambil sebagai komitmennya untuk selalu mengedepankan ruang dialog dalam setiap karya yang ia hasilkan.
“Saya berniat untuk bersilaturahmi dan bertabayun, mencoba menjelaskan maksud di balik pertunjukan saya. Saya sangat senang ketika ada kebingungan atas produk pertunjukan saya, langkah pertama yang diambil adalah berdialog,” ujar Pandji, dilansir MI, pada Rabu (4/2/2026).
Ia mengaku sempat menonton potongan pertunjukan komedinya bersama pengurus MUI.
Diskusi itu menjadi ruang bagi Pandji untuk menjelaskan sudut pandangnya sebagai seniman, sekaligus menerima masukan dari perspektif keagamaan.
Menurutya, sebagai seniman, karyanya mengandung banyak penafsiran.
“Tapi senimannya sendiri kan bisa ditanya untuk kejelasan dari sebuah karya. Tadi pembicaraannya berjalan sangat menyenangkan dan penuh tawa,” imbuhnya.
Pandji mengungkapkan dalam pertemuan itu, ia mendapat nasihat penting mengenai tanggung jawab seorang seniman. Ia juga diingatkan sebuah karya yang bertujuan menghibur khalayak luas harus pula mempertimbangkan sensitivitas perasaan masyarakat banyak.
“Saya diingatkan selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi. Karena saya ingin terus berkarya dan menghibur sebanyak-banyaknya orang,” imbuhnya.
Karena itu, lanjut Pandji, karya harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga.
Ia memastikan komitmen perbaikan telah disampaikan secara langsung kepada pihak MUI.
Pandji berharap langkah yang ia ambil dapat menjadi pesan bagi para komika lain di Indonesia agar tidak ragu berkarya, namun tetap melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus.
“Semoga ini akan membuat siapapun komika di Indonesia semakin mantap berkarya karena tahu bahwa karya ini harus dilakukan dengan perbaikan terus-menerus,” ujarnya.
Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan MUI menyambut baik inisiatif silaturahmi tersebut sebagai bagian dari proses memberikan panduan keagamaan yang akurat bagi masyarakat.
Menurutnya, MUI perlu melihat secara utuh keseluruhan materi pertunjukan, bukan sekadar potongan video yang beredar luas di media sosial.
“Informasi tabayun ini penting agar MUI dapat bersikap proporsional dalam memberikan pandangan keagamaan,” jelasnya.
Dari pertemuan tersebut, Ni’am mencatat dua poin penting sebagai hasil tabayun.
Pertama, komitmen Pandji memperbaiki materi komedi yang bersinggungan dengan isu keagamaan sensitif dan multitafsir. Kedua, arahan agar materi komedi di masa depan lebih difokuskan pada hal-hal yang bersifat positif.
Yan Andri












